Pendekatan Fenomenologis Pengantar Studi Islam

Fenomenologi berasal dari kata “phainein” yang berarti memperlihatkan dan “pheinemenon” yang berarti sesuatu yang muncul atau terlihat. Sedangkan dalam pengertian yang lain kata fenomena berarti “penampakan” seperti pilek, demam dan meriang yang menunjukkan fenomena gejala penyakit. Pada abad ke XIX, arti kata fenomologi menjadi sinonim dengan fakta.

Berbicara tentang fenomenologi,sebenarnya fenomenologi muncul bersamaan dengan munculnya lapangan-lapangan studi ilmiah dan dipengaruhi oleh gerakan-gerakan baru dalam pemikiran filosofi.Fenomenologi diterapkan dalam studi agama sebagai suatu metode penelitian ilmiah yang ditawarkan dengan pendekatan-pendekatan teologis.Fenomenologi agama ada karena berangkat dari evaluasi atas antiseden/pendekatan yang telah mendahuluinya dan berusaha menetapkan kerangka kerja metodologisnya sendiri dalam studi agama dengan kaitannya sebagai pendekatan alternatif terhadap subyek agama.Awalnya, pendekatan fenomenologis merupakan upaya membangun suatu metodologi yang koheren bagi studi agama. Para ahli melihat fenomenologi agama sebagai pelengkap pendekatan historis dan filosofis, namun dalam memahaminya mereka memiliki tujuan yang berbeda.

Tujuan dari fenomologi adalah memahami pemikiran, tingkah laku, dan lembaga-lembaga keagamaan tanpa mengikuti salah satu teori filsafat, teologi, metafisika, ataupun psikologi.
Orientasi fenomenologi adalah bahwa pengertiannya yang benar adalah pengertian yang asli dan benar. Melalui reduksi dapat disingkirkan segala unsur tradisi dari pengertian. Yang ingin diselidiki ialah fenomin, yaitu data sederhana tanpa tambahan yang dapat diserap secara rohaniyah melalui intiusi (keberlangsungan).

Sifat pokok fenomologi adalah membiarkan realitas atau fakta fakta berbicara dengan suasana intention.Pada intinya, ada tiga tugas yang harus dipikul oleh fenomenologi, yaitu, pertama, mencari hakikat ketuhanan. Kedua, menjelaskan teori wahyu, dan ketiga meneliti tingkah laku keagamaan. Sedangkan bidang garap fenomenologi adalah menerangkan apa yang sudah diketahui yang terdapat dalam sejarah agama, tetapi dengan caranya sendiri, fenomologi berusaha menyusun bagian pokok agama atau sifat alamiah agama, yang juga merupakan faktor penamaan dari semua agama, dan fenomenologi tidak mempersoalkan apakah gejala keagamaan itu benar, apakah bernilai, dan bagaimana dapat menjadi demikian, atau menentukan lebih besar atau kecilnya nilai keagamaan.

Jadi dapat disimpulkan bahwasannya, yang menjadi objek fenomologi adalah:
1) Menemukan intisari
2) Menemukan struktur
3) Mencari inner meaning
4) Membuat klasifikasi, tipologi dan penyisteman fenomena
5) Membuat motif dasar
6) Mencari alur gejala dari waktu ke waktu



sumber

Pendekatan Filosofis Pengantar Studi Islam

Secara harfiyah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu filsafat dapat pula berati mencari hakiat sesuatu, berusaha menentukan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.

Dapat diketahui bahwa filsafat pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik obyek formatnya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas dan inti yang terjadi di balik yang bersifat lahiriyah. Sebagai contoh, kita jumpai berbagai merek bulpoint dengan kualitas dan harganya yang berlain-lainan namun inti semua bulpoint itu adalah sebagai alat tulis. Ketika disebut alat tulis, maka tercangkuplah semua nama dan jenis bulpoint. Kegiatan filsafat juga terkadang disebut merenung. Tetapi merenung bukanlah melamun,bukan juga berpikir secara kebetulan yang bersifat untung-untungan, melainkan dilakukan secara mendalam, radikal, sistematik dan universal.

Berfikir secara filosofis tersebut salanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksut agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. Misalnya membaca buku berjudul Hikmah al-Tasyri’ wa Falasafatuhu yang ditulis oleh Muhammad al- Jurjawi. Dalam buku tersebut al-Jurjawi berusaha mengungkapkan hikmah yang terdapat dibalik ajaran-ajaran agama Islam. Ajaran agama misalnya mengerjakan mengajarkan agar melaksanakan shalat berjama’ah. Tentunya antara lain agar seseorang merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain. Dengan mengerjakaan puasa misalnya agar seseorang dapat merasakan lapar yang selanjutnya menimbulkan rasa iba kepada sesamanya yang hidup serba kekurangan.

Dengan menggunakan pendekatan filosofis ini seseorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya, dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Dengan cara demikian seseorang mengerjakan suatu amal ibadah tidak akan merasa kekeringan spiritual yang akan menimbuljan kebosanan. Semakin mampu menggali makna filosofis dari suatu ajaran agama, maka semakin meningkaat pula sikap, penghayatan dan daya spiritualitas yang dimiliki seseorang.

Karena demikian pentingnya pendekaan filosofis ini, maka kita menjumpai bahwa filsafat telah digunakan untuk memahami berbagai bidang lainnya selain agama. Kita misalnya membaca adanya filsafat hukum Islam, filsafat sejarah, fisafat kebudayaan, filsafat ekonomi dan lain sebagainya.
Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya menggunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memperlukan pendekatan filosofis dalam memahami ajaran agamanya, yang contoh-contoh telah dikemukakan di atas. Namun pendekatan seperti ini masih belum diterima secara merata terutama oleh kaum tradisionalis yang cenderung memahami agama terbatas pada ketepatan melaksanakan aturan-aturan formalistik dari pengamalan agama.


 sumber

Pendekatan Sosiologis Pengantar Studi Islam

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksut hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup ituserta pula kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia. Sementara itu Soerjono Soekamto mengartikan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian. Sosiologi tidak menetapkan ke arah mana sesuatu seharusnya berkembang dalam arti memberi petunjuk-petunjuk yang menyangkut kebijaka kemasyarakatan dari proses kehidupan bersama tersebut. Di dalam ilmu ini juga dibahas tentang proses-proses soisial, mengingat bahwa pengetahuan perihal struktur masyarakat saja belum cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata mengenai kehidupan bersama dari manusia.

Dari dua definisi tersebut terlihat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan. Dengan ilmu ini sautu fenomena sosial dapat dianalisis dengan faktor-faktor yang mendorong terjadinya hubungan, mobilitas sosial serta keyakina-keyakinan yang mendasari proses tersebut.

Pentingnya sosiologi dalam memahami agama sebagaimana disebutkan di atas, arena bvanyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengsn masalah sosial. Besarnya perhatia agama terhadap masalah sosial itu selanjutnya mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu sosial sebagai alat untuk memahami agamanya. Dalam bukunya berjudul Islam Alternatif, Jalaludin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini Islam terhadap masalah sosial, dengan mengajukan lima alasan sebagai berikut.

Pertama, dikemukakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah satu berbanding seratus untuk satu ayat ibadah. Ciri-citi orang mukmin sebagaimana disebutkan dalam surat al-Mukminun ayat 1-9 misalnya adalah orang yang shalatnya khusu’ menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat, menjaga amanat dan janjinya dan dapat menjaga kehormatan dari perbuatan maksiat.

Kedua, bahwa ditekankannya masalah muamala (sosial) dalam Islam ialah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan, melainkan dengan tetap dikerjakannya sebagaimana mestinya.
Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan. Karena itu salat yang dilakuka secara berjama’ah dinilai lebih tinggi nilainya daripada salat yang dikerjakan sendirian (mufarid) dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat.

Keempat, dalam Islam terdapat kerentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifatarnya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial, Bila puasa tak mampu dilakukan misalnya, maka jalan keluarnya adalah dengan membayar fidyah dalam bentuk memberi makan bagi orang miskin.
Kelima, dalam Islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat gsnjsrsn lebih besar daripada ibadah sunnah. Dalam hubungan ini kita misalnya membaca hadits yang artinya sebagau berikut :

“Orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang miskin, adalah seperti pejuang di jalan Allah (atau aku kira beliau berkata) dan seperti orang yang terus-menerus salat satu malam dan terus-menerus berpuasa.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Melalui pendekatan sosiologis agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam Al-Qur’an misalnya kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa dan sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial pada saatr agama itu diturunkan.





sumber

Pendekatan Antropologis Pengantar Studi Islam

Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupa berupa penjelasan dan memberikan jawabannya. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dijelaskan Dawan Raharjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif. Dari aini timbul kesimpulan-kesimpulan yang bersifat induktif yang mengimbangi pendekatan deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan sosiologis. Penelitisn antropologis yang induktif dan grounded, yaitu turun kelapangan tanpa berpijak pada, atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dilakukan di bidang sosiologi.

Sejalan dengan pendekatan tersebut, maka dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubugan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Golongan masyarakat yang kurang mampu dan golongsn miskin pada umumnya, lebih ertarik pada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat messiasis, yang menjanjikan perubahan ketatanan kemasyarakatan. Sedangkan golongan orang yang kaya lebih cenderung mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan itu sudah menguntungkan pikirannya. Karl Max (1818 - 1883) sebagai contoh melihat agama sebagai opini atau candu masyarakat tertentu sehingga menmendorong untuk memperkenalkan teori konflik atau yang biasa disebut teori pertantangan kelas. Mnurutnya, agama bisa disalah fungsikan oleh kalangan tertentu untuk melestarikan staus quo peran tokoh-tokoh agama yang mendukung sistem kapitalisme di Eropa yang beragama Kristen. Lain halnya dengan Max Weber (196 - 1920). Dia melihat adanya korelasi positif antara adanya ajaran Protestan dengan munculnya semangat kapitalisme modern. Etika Protestan dilihatnya sebagai cikal bakal etos kerja masyarakat induatri modern yang kapitalistik.

Melalui pendekatan antropologis di atas, kita bisa melihat bahwa agama berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, maka jika kita ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang, maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaannya.

Dalam Al-Qur’an al-Karim, sebagai sumber umat ajaran Islam misalnya kita memperoleh informasi tentang kapal Nabi Nuh di gunung Afarat, Kisah Asbabul Khafi,yang dapat bertahan hidup dalam goa selama lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Dimana kira-kira bangkai kapal nabi Nuh itu, apakah hal yang demikian merupakan kisah fiktif, dan tentu masih banyak lagi contoh lain yang hanya dapat dijelaskan dengan bantuan ahli grafis atau arkeologi.

Dengan demikian pendekatan antopologi sanngat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat urai dan informasi yang dapat dijelaskan lewat ilmu antropologi dengan cabang-cabangnya.





sumber

Pendekatan Historis Pengantar Studi Islam

Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa. Menurut ilmu ini segala peristiwa dan dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini sseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.

Pendekatan kesejarahan ini sangat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini Islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika mempelajari Al-Qur’an, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan Al-Qur’an itu terbagi menjadi duaa bagian. Bagian pertama, berisi konsep-konsep, dan bagian kedua berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.

Dalam bagian pertama berisi konsep-konsep, banyak yang kita dapati dari Al-Qur’an yang merujuk kepada pengertian-pengertian nrmatif yang khusus, aturan-aturan legal dan ajaran-ajaran keagamaan pada umumnya. Istilah-istilah, atau pernataan-pernytaan itu mungkin diangkat dari konsep-konsep yang telah dikenal oleh istilah-istilah baru. Yang jelas, istilah-istilah itu kemudian di integrasiikan ke dalam pandangan dunia Al-Qur’an, dan dengan demikian, lalu menjadi konsep-konsep yang otentik.
Selanjutnya jika pada bagian yang berisi konsep-konsep, Al-Qur’an bermaksud membentuk pemahaman yang komprehensif mengeai nialai-nilai Islam, maka pada bagian kedua yang berisi tentang kisah-kisah dan perumpamaan, Al-Qur’an ingin mengajak melakukannya perenungan untuk memperoleh hikmah. Melalui kontemplasi terhadap kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa historis, dan juga melalui metafor-metafor yang berisi hikmah tersembunyi, manusia diajak merenungkan hakikat dan makna kehidupan. Banyak sekali ayat yang berisi ajakan-ajakan semacam ini.

Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorng tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Seseorang yang ingin memehami Al-Qur’an secara benar misalnya, yang bersangkutan musti harus mempelajari sejarah turnnya Al-Qur’an atau keajaiban-keajaiban yang mengiringi turunnya Al-Qur’an yang kemudian disebut dengan ilmu Asbab al-Nuzul yang pada intinya berisi sejarah turunya Al-Qur’an. Dengan Ilmu Asbabun Nuzul ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu dan ditunjuk untuk melihat syari’at dari kekeliruan memahaminya.




sumber

Pendekatan Psikologis Pengantar Studi Islam

Psikologi atau Ilmu Jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa seseorabg melalui gejala perilaku yang dapat diamati. Menurut Zakiah Dradjat, bahwa perilaku seseoranh yang nampak lahirnya terjadi karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Seseorang yang berjumpa saling mengucapkan salam, hormat kepada kedua orang tua, kepada guru, menutup aurat, rela berkorban untuk kebenaran dan sebagainya adalah merupakan gejala-gejala keagamaan yang dapat dijelaskan melalui ilmu jiwa agama. Ilmu jiwa agama sebagai mana dikemukakan Zakiah Deradjat tidak akan mempersoalkan benar atau tidaknya suatu agama yang dianut seseorang, melainkan yang dipentingkan adalah bagaimana keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhnya dalam perilaku penganutnya.

Dalam ajaran agama banyak kita jumpai istilah-istilah yang menggambarkan sikap batin seseorang. Misalnya sikap beriman dan bertakwa kepada Allah, sebagai orang saleh, orang yang berbuat baik, orang yang shiddiq (jujur) dan sebagainya. Semua itu adalah gejala-gejala kejiwaan yang berkaitan dengan agama.

Dengan ilmu jiwa ini seseorang selain akan mengetahui tingkah keagamaan yang dihayati, dipahami, dan diamalkan seseorang, juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama ke dalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkah usianya. Dengan ilmu ini agama akan menemukan cara yang tepat dan cocok untuk menanamkannya.



sumber

Pendekatan Yuridis Pengantar Studi Islam

Dalam bahasan ini dikupas penggunaan pendekatan yurudis(hukum), termasuk juga sosiologi hukum. Ada beberapa teori yang dapat digunakan dengan kajian pendekatan yuridis/hukum dan sosiologi hukum. Misalnya untuk meliat interaksi pemberlakuan hukum baru terhadap hukum lama muncul teori mayor dan minor oleh Antonio Gramci dengan teori hegemoni.

Erving Goffman menawarkan teori stigma. Menurut teori ini ada tiga tahapan sikap konsep minoritas(hukum baru) terhadap konsep mayoritas(hukum lama):

1. minoritas tunduk sepenuhnya kepada mayoritas.
2. minoritas menerima secara keritis konsep mayoritas.
3. konsep minoritas menolak konsep mayoritas dan konsep minoritas menampilkan konsep sendiri yang dianggap lebih ideal.

Teori lain, secara emperik-induktif, teori pengakuan(anerkennungs teori) menyatakan, bahwa hukum mempunyai kekuatan berlaku jika diterima dan diakui oleh masyarakat. Secara normatif-deduktif, teori kekuatan (machts tehori) mwnyatakan bahwa, hukum mempunyai kekuatan berlaku jika dipaksakan oleh penguasa terlepas diterima atau tidak oleh masyarakat.

Ada juga teori yang mengatakan, hukum berlaku kalau sejalan dengan nilai sosiologis, filosofis dan normatif masyarakat.

Masuk juga teori sosiologi hukum adalah teori konflik. Bagaimana sikap dominan mempertahankan kedudukannya. Sebaliknya, bagaimana konsep minoritas yang tertekan berusaha melepas belenggu yang mengitarinya.

Pendekatan yuridis dapat digunakan untuk menganslisias hukum sebagai satu sistem, apabila telah memenuhi aspek yang telah dikaji, yakni materi hukum (content of law), struktur hukum (structure of law), dan budaya hukum (legal culture).

Dengan demikian, objek kajian materi hukum (legal substance) adalah materi atau isi hukum/undang-undang. Fokus kajian struktur hukum (legal structure) adalah lembaga dan penegak hukum; hakim, jaksa, pengacara, proses dan struktur. Sementara kajian budaya hukum (legal culture) adalah masyarakat yang menjadi subjek yang diatur oleh hukum, menyangkut ide, gagasan, nilai-nilai, norma, kebiasaan, dan semacamnya.

Sementara peran hukum secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni hukum sebagai alat pengatur dan pengontrol (law as a tool of social control), dan hikum sebagai alat rekayasa/perubahan sosial (law as atool of social engineering), bahkan ahli sociological jurisprudence, Roscoe Pund sangat yakin bahwa hukum dapat menjadi alat untuk mengubah masyarakat ke arah keadaan lebih baik.


sumber

Pendekatan Teologis Pengantar Studi Islam

Pendekatan teologi dalam memahami agama secara harfiyah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka Ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengn yang lain. Amin Abdullah mengatakan, bahwa teologi sebagaimana kita ketahui, tidak bisa tidak pasti mengacu kepada agama tertentu. Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subyektif, yakin bahasa sebagai pelaku buka sebagai pengamat adalah ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis.

Dari pemikiran tersebut, dapat diketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk formal atau symbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk formal atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sendiri yang paling benar sedangkan yang lain adalah salah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatik bahwa pahamnyalah yang benar sedangkan paham yang lainnya salah, sehingga memandang paham orang lain itu sesat, keliru, kafir murtad dan seterusnya. Demikian juga paham yang dituduh keliru, sesat, kafir itupun menuduh kepada lawannya sebagai yang sesat dan kafir. Dalam keadaan demikian,maka terjadilah proses saling mengkafirkan, salah menyalahkan dan seterusnya. Dengan demikian antara satu aliran dan aliran lainnya tidak terbuka dialog atau saling menghargai. Yang ada hanyalah ketertutupan. Sehingga yang terjadi adalah pemisahan dan terkotak-kotak.


sumber

Perilaku Halusinasi

Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan,perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, prilaku merusak diri, kurangperhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapatmembedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins danHeacock, 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskanatas hakekat keberadaan seorang individu sebagai mahkluk yang dibangunatas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapatdilihat dari lima dimensi yaitu :

Dimensi Fisik

Manusia dibangun oleh sistem indera untuk menanggapirangsang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya.Halusinasi dapatditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luarbiasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasialkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.

Dimensi Emosional

Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidakdapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi.Isi darihalusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan.Klien tidaksanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisitersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.

Dimensi Intelektual

Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individudengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego.Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untukmelawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yangmenimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatianklien dan tak jarang akan mengontrol semua prilaku klien.

Dimensi Sosial

Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkanadanya kecenderungan untuk menyendiri. Individu asyik denganhalusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhikebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidakdidapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem controloleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupaancaman, dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. Olehkarena itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatanklien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkanpengalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusakan klientidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi denganlingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.

Dimensi Spiritual

Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, sehinggainteraksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yangmendasar. Pada individu tersebut cenderung menyendiri hingga prosesdiatas tidak terjadi, individu tidak sadar dengan keberadaannya danhalusinasi menjadi sistem kontrol dalam individu tersebut. Saathalusinasi menguasai dirinya individu kehilangan kontrol kehidupandirinya.




sumber

Pengertian Psikopatologi Halusinasi

Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguanpersepsi.Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising ataumendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalambentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakanmengenai keadaan pasien sendiri atau yang dialamatkan pada pasien itu,akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap mendengar atau bicara-bicarasendiri atau bibirnya bergerak-gerak.

Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum diketahui. Banyak teoriyang diajukan yang menekankan pentingnya faktor-faktor psikologik,fisiologik dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa dalam keadaan terjagayang normal otak dibombardir oleh aliran stimulus yang yang datang daridalam tubuh ataupun dari luar tubuh.Input ini akan menginhibisi persepsiyang lebih dari munculnya ke alam sadar.

Bila input ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai pada keadaan normal atau patologis,maka materi-materi yang ada dalam unconsicisus atau preconsciousbisa dilepaskan dalam bentuk halusinasi. Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan adanya keinginan yang direpresi ke unconsicious dan kemudian karena sudah retaknyakepribadian dan rusaknya daya menilai realitas maka keinginan tadidiproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus eksterna.



sumber

Pengertian Halusinasi

Halusinasi merupakan salah satu gangguan persepsi, dimana terjadi pengalamanpanca indera tanpa adanya rangsangan sensorik (persepsi indra yangsalah). Menurut Cook dan Fotaine (1987), halusinasi adalah persepsisensorik tentang suatu objek, gambaran dan pikiran yang sering terjaditanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua systempenginderaan (pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan ataupengecapan), sedangkan menurut Wilson (1983), halusinasi adalah gangguan penyerapan/persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dariluar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana terjadi pada saatkesadaran individu itu penuh dan baik. Maksudnya rangsangan tersebutterjadi pada saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dariindividu. Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidaknyata, yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan.

Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi padaklien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaandelirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaanalkohol dan substansi lainnya. Halusinasi adapat juga terjadi denganepilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasijuga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yangmeliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasisama seperti pemberian obat diatas.



sumber

Pengertian Persepsi

Persepsi adalah proses diterimanya rangsang sampai rangsang itu disadari dandimengerti penginderaan/sensasi : proses penerimaan rangsang. Jadigangguan persepsi adalah ketidakmampuan manusia dalam membedakanantara rangsang yang timbul dari sumber internal seperti pikiran, perasaan,sensasi somatik dengan impuls dan stimulus eksternal. Dengan maksudbahwa manusia masih mempunyai kemampuan dalam membandingkan danmengenal mana yang merupakan respon dari luar dirinya.

Manusia yang mempunyai ego yang sehat dapat membedakan antarafantasi dan kenyataaan. Mereka dalap menggunakan proses pikir yanglogis, membedakan dengan pengalaman dan dapat memvalidasikan sertamengevaluasinya secara akurat. Jika ego diliputi rasa kecemasan yangberat maka kemampuan untuk menilai realitas dapat terganggu.

Persepsi mengacu pada respon reseptor sensoris terhadap stimulus eksternal.Misalnya sensoris terhadap rangsang, pengenalan dan pengertian akanperasaan seperti : ucapan orang, objek atau pemikiran. Persepsimelibatkan kognitif dan pengertian emosional akan objek yang dirasakan. Gangguan persepsi dapat terjadi pada proses sensoris dari pendengaran,penglihatan, penciuman, perabaan dan pengecapan. Gangguan ini dapatbersifat ringan, berat, sementara atau lama. (Harber, Judith, 1987, hal725)



sumber

Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW


Oleh KH. A. Mustofa Bisri

Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris.
Kita mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.

Adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi --orang Eropa menyebutnya Saladin, seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub --katakanlah dia setingkat Gubernur. Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Kata Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijriyah, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.

Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni An-Nashir, ternyata khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi.

Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Dia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul 'Iqd Al-Jawahir (artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini.
 
---------
 
Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, perayaan Maulid Nabi atau Muludan dimanfaatkan oleh Wali Songo untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat) sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan Maulid Nabi disebut Perayaan Syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten.
Dua kalimat syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga bernama Gamelan Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid Demak pada waktu perayaan Maulid Nabi. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dulu memasuki pintu gerbang "pengampunan" yang disebut gapura (dari bahasa Arab ghafura, artinya Dia mengampuni).
Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Gerebeg Mulud. Kata "gerebeg" artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di samping Gerebeg Mulud, ada juga perayaan Gerebeg Poso (menyambut Idul Fitri) dan Gerebeg Besar (menyambut Idul Adha).

Kini peringatan Maulid Nabi sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awal (Mulud), sudah dihapal luar kepala oleh anak-anak. Acara yang disuguhkan dalam peringatan hari kelahiran Nabi ini amat variatif, dan kadang diselenggarakan sampai hari-hari bulan berikutnya, bulan Rabius Tsany (Bakdo Mulud). Ada yang hanya mengirimkan masakan-masakan spesial untuk dikirimkan ke beberapa tetangga kanan dan kiri, ada yang menyelenggarakan upacara sederhana di rumah masing-masing, ada yang agak besar seperti yang diselenggarakan di mushala dan masjid-masjid, bahkan ada juga yang menyelenggarakan secara besar-besaran, dihadiri puluhan ribu umat Islam.

Ada yang hanya membaca Barzanji atau Diba' (kitab sejenis Barzanji). Bisa juga ditambah dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti penampilan kesenian hadhrah, pengumuman hasil berbagai lomba, dan lain-lain, dan puncaknya ialah mau’izhah hasanah dari muballigh.

Para ulama NU memandang peringatan Maulid Nabi ini sebagai bid’ah atau perbuatan yang di zaman Nabi tidak ada, namun termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) yang diperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan seorang muslim yang pada zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antara lain: berzanjen, diba’an, yasinan, tahlilan (bacaan Tahlilnya, misalnya, tidak bid’ah sebab Rasulullah sendiri sering membacanya), mau’izhah hasanah pada acara temanten dan Muludan. 

Dalam Madarirushu’ud Syarhul Barzanji dikisahkan, Rasulullah SAW bersabda: "Siapa menghormati lahirku, tentu aku berikan syafa'at kepadanya di hari kiamat".

Allaahumma shalli wa sallim wa baarik 'alaihi
Wahai Allah berikanlah kesejahteraan, keselamatan dan keberkahan kepada Nabi Muhammad.
Semoga bermanfaat.‎

Kelola Art Festival 2016

Kelola Art Fest'16

Rabu, 7 Desember 2016
Exhibition, Bazar and Indie Band Concert

Pameran Proyek Mahasiswa:
“Jurusan Tatakelola Seni Angkatan 2014”
Pembukaan | Opening
Rabu | Wednesday
7 Desember 2016
09.00 WIB | 09.00 pm

Diskusi tentang ART MANAGEMENT | Open Discuss about Art Management
Rabu | Wednesday
7 Desember 2016
10.00 – 12.00 WIB | 10 - 12 pm

Screening Film:
Painting of War
(Secondary Military Action Djogja 1948)
Rabu | Wednesday
7 Desember
12.00 – 15.00 WIB | 12 - 03 pm
Indie Band Perform
- MAThree
- CLUB PATAH HATI
- SOEPRABA
- PINTU RUMAH BIRU
- SKArepku
- MAMAHIMA
- MARSMOLYS
- KRUSIAL
- SLACKING SOMEDAY
- MERANTI
- KAVVAH
- KOPI LOEWAK
- STANIZTERS
- DJ SANJONAS

Gelar Lapak
Bazar makanan, minuman, fashion pakaian, aksesories, home decoration, tarot, perlengkapan backpaker,dll.

Luxor Garden – Pyramid Resto
Jl. Parangtritis km 5,5,Bantul, Yogyakarta, Indonesia
Ph: 082136045149 (el)
       081390001703 (Novi)
IG  : @kaf.16
Fb : Kelola Art Fest

Bulan Rabiul Awwal adalah Bulannya Bersholawat

Di saat para malaikat berkelompok berkumpul dn bergemuruh mengucap shalawat kepada Rasul setiap hari nya kenapa kita sebagai ummat yg d ingat dn d khawatirkan oleh beliau enggan bershalawat..?

======

Pusara yang suci mulia itu (makam Baginda Rasul) adalah tempat turunnya rahmat Ilahi, yaitu sebagaimana dituturkan oleh Ka’ab r.a. dalam sebuah hadits :

“Tiap fajar menyingsing’ tujuh puluh ribu malaikat turun menge­ lilingi pusara (beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam) dan sambil mengibas- ngibaskan sayap, mereka bershalawat kepada Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam.

Petang harinya mereka naik (ke langit). Kemudian turun (lagi malaikat berikutnya sebanyak) tujuh puluh ribu, mengelilingi pusara dan sambil mengibas-ngibaskan sayap, mereka bershalawat kepada Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam

(Demikianlah), tujuh puluh ribu malaikat di waktu malam dan tujuh puluh ribu malaikat di waktu siang”. (Hadits diriwayatkan oleh Hafidz Isma’Il Al-Qadhi pada bagian shalawat Nabi)

============

wahai saudaraku
 
semoga Allah menjadikan kita sebagai orang orang yg cinta dngn shalawat kepada baginda Rasul Aamiin..

Sebab perhatian Baginda Rasul lebih dn lebih kepada mereka yg gemar bershalawat kpada beliau..

=

ungkapan dari (Alm) Habibana Munzir tentang bulan Rabiul Awwal....

bulan Rabiul Awwal / bulan Maulid adalah bulan d mana Baginda Rasul paling sering mengunjungi ummat nya..

Maka sangat d sayang kan ketika bulan yg penuh berkah ini hampir terlewat kan..

namun kita masih juga belum berjumpa dengan Baginda Rasul d dalam mimpi kita...

==

Pesan Habib Ahmad Novel Salim Jindan (sahabat Habibana Munzir) menjelang bulan Mulia bulan Rabi'ul Awwal..

=====

Sahabatku yang dirahmati Allah..! Berusahalah agar tidak berlalu bulan Rabiul Awal melainkan Allah telah memuliakan kita dengan bermimpi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Berusahalah. Sebab jika kita tidak berusaha maka bagaimana cita-cita tinggi itu dapat menjadi kenyataan. Seseorang jikalau hanya tidur dan bermalas-malasan di rumah maka dia tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan.

Demikian pula jika kita ingin sampai kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ingin sampai kepada keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ingin dekat dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam, ingin jumpa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam, ingin melihat wajah beliau..

maka berusahalah. Bagaimana? Di bulan Rabiul Awal ini bulan maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam, hendaknya kita memperbanyak bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam, jangan tangan kita hanya dibuat pegal dengan memegang hp (sms, bbm, fb, whatsapp, twitter),

cukup sudah. Apabila kemarin kita sibuk memegang hp maka sekarang hendaknya kita sibuk memegang tasbeh. Peganglah tasbeh dan bacalah shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Terserah, shiighoh shalawat yang macam apa yang ingin kita baca dan rutinkan, yang penting kita bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam..

Dan bershalawatlah dengan pikiran dan hati yang penuh rindu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

=====

nah wahai saudaraku..
 
Semoga di bulan yang Mulia ini dengan sebab kita memperbanyak Rindu dn shalawat kepada Baginda Rasul..

maka beliau pun akan hadir menemui kita..

Aamiin...

Pengertian Revolusi Hijau dan Industrialisasi

Revolusi Hijau adalah istilah untuk perubahan secara cepat dalam bidang pertanian ( yang dapat berupa peralatan pertanian, cara bercocok tanam, perubahan rotasi tanaman, atau sistem pengairan. ) dari tradisional ke modern dengan peran ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam upaya meningkatkan produksi pangan.

Revolusi hijau atau Revolusi Agraria di tandai makin berkurangnya ketergantungan petani pada cuaca dan alam. Pengertian ini merujuk juga pada sebuah kondisi dimana para pakar tekhnologi pertanian melakukan persilangan (breeding) antar jenis tanaman tertentu sehingga menghasilkan jenis tanaman unggul yang mempunyai ciri ; berumur pendek, memberikan hasil produksi berlipat ganda, dan mudah beradaptasi dalam lingkungan apapun. Asal memenuhi syarat, antara lain :

a.) Tersedia cukup air
b.) Pemupukan teratur
c.) Tersedia bahan kimia pemberantas hama dan penyakit serta pemberantas rerumputan pengganggu.

Sedangkan industrialisasi adalah suatu proses modernisasi dan perubahan sosial ekonomi yang mengubah sistem pencaharian masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, dimana
masyarakat berfokus pada ekonomi yang meliputi pekerjaan yang semakin beragam, gaji, dan penghasilan yang semakin tinggi.



MACAM-MACAM MEDIA INSTRUKSIONAL

Terdapat berbagai macam media instruksional atau media pembelajaran yang kita kenal. sebagaimana pendapat Rasdiana (1998) antara lain media grafis, media gambar/fotografi, media proyeksi, media audio, dan media tiga dimensi. Uraian lebih rinci dapat digambarkan sebagai berikut: (1) Media grafis: Media grafis dibedakan atas beberapa macam, antara lain bagan diagram, grafis, poster, kartun, dan komik. Media grafis dalam penyajian materinya adalah secara visual sehingga didalam pembelajaran rangkaian listrik sangat jarang dilakukan karena umumnya media ini hanya menampilkan gambar visual hubungan antara fakta pokok atau gagasan pokok; (2) Media gambar / fotografi: Gambar merupakan media dua dimensi, dari beberapa karakteristiknya bahwa media bersifat dua dimensi, bersifat diam, bersifat rekaman fakta, bersifat rekaman hidup itu memperoleh keuntungan dalam mengefektifkan proses belajar mengajar.(3)Media proyeksi:Media proyeksi yang dimaksudkan di sini adalah LCD Proyektor dimana penggunaannya dihubungkan dengan komputer. Media ini sangat baik untuk tujuan mengembangkan pengertian konsep abstrak menjadi lebih kongkret membantu mengingat isi materi pelajaran yang bersifat verbal. Manfaat media LCD Proyektor dalam pembelajaran antara lain adalah mempertahankan komunikasi tatap muka sehingga pendidik mudah mengontrol peserta didik selama dia mengajar.



sumber