NU ADALAH BENTENG NKRI

Jangan heran bila NU menjadi sasaran para kemegus yang ngedabrus bela NU, tapi nyatane malah menggemboskan NU, tidak lain itu hanyalah Trik untuk memecah belah NU karena NU dianggap sebagai Batu Sandung mereka dalam menjalankan Aksinya yaitu menegakkan Khilafer palsu ala London.

Akhir-akhir ini kembali mencuat sebuah kalimat ajakan yang mendiskreditkan NU yang sekarang ini, dibawah pimpinan Prof Dr KH Sa'id Aqil Sirodj, untuk kembali ke NUnya Mbah Hasyim Asy'ari, dari kelompok GL (Gila) mereka menjelek-jelekkan NU, bahkan banyak yang mengaku NU tapi sikapnya malah menggemboskan NU, dengan berbagai modus dan cara mereka lakukan, ada yang dengan halus dan ada juga dengan cara yang kasar bahkan membuat berita fitnah tentang NU seakan akan menurut mereka Halal.

Ini kembali saya unggah Video ceramah Abah Luthfi Bin Yahya untuk mewaspadai gerakan yang secara dzohir bela NU tapi hakekatnya ingin memecah belah NU.

Dawuhe Abah Luthfi Bin Yahya.

Tak ingetke tak ingetke...

Engko nek wes tinggal NUne bakal dipecah, gawe kelompok dua, apa.? kelompok NU yang disebut NU Gusdur Aqil Sirodj yang kedua NU Mbah Hasyim Asy'ari, supaya apa, NU pecah bek dedi loro seng siji NU Gusdur seng siji NU Mbah Hasyim Asy'ari, tidak ada NU Gusdur tidak ada NU Habib Luthfi tidak ada NU Aqil Sirodj yang ada NU Nahdhotil Ulama yang njumenengaken Mbah Hasyim Asy'ari.

Mari kita jaga NU siapapun pemimpinnya, dan bungkam para pemecah belah NU yang sok bijak dan sok kyai.

SEBARKAN....!!!

Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW


Oleh KH. A. Mustofa Bisri

Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris.
Kita mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.

Adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi --orang Eropa menyebutnya Saladin, seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub --katakanlah dia setingkat Gubernur. Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Kata Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijriyah, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.

Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni An-Nashir, ternyata khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi.

Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Dia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul 'Iqd Al-Jawahir (artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini.
 
---------
 
Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, perayaan Maulid Nabi atau Muludan dimanfaatkan oleh Wali Songo untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat) sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan Maulid Nabi disebut Perayaan Syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten.
Dua kalimat syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga bernama Gamelan Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid Demak pada waktu perayaan Maulid Nabi. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dulu memasuki pintu gerbang "pengampunan" yang disebut gapura (dari bahasa Arab ghafura, artinya Dia mengampuni).
Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Gerebeg Mulud. Kata "gerebeg" artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di samping Gerebeg Mulud, ada juga perayaan Gerebeg Poso (menyambut Idul Fitri) dan Gerebeg Besar (menyambut Idul Adha).

Kini peringatan Maulid Nabi sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awal (Mulud), sudah dihapal luar kepala oleh anak-anak. Acara yang disuguhkan dalam peringatan hari kelahiran Nabi ini amat variatif, dan kadang diselenggarakan sampai hari-hari bulan berikutnya, bulan Rabius Tsany (Bakdo Mulud). Ada yang hanya mengirimkan masakan-masakan spesial untuk dikirimkan ke beberapa tetangga kanan dan kiri, ada yang menyelenggarakan upacara sederhana di rumah masing-masing, ada yang agak besar seperti yang diselenggarakan di mushala dan masjid-masjid, bahkan ada juga yang menyelenggarakan secara besar-besaran, dihadiri puluhan ribu umat Islam.

Ada yang hanya membaca Barzanji atau Diba' (kitab sejenis Barzanji). Bisa juga ditambah dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti penampilan kesenian hadhrah, pengumuman hasil berbagai lomba, dan lain-lain, dan puncaknya ialah mau’izhah hasanah dari muballigh.

Para ulama NU memandang peringatan Maulid Nabi ini sebagai bid’ah atau perbuatan yang di zaman Nabi tidak ada, namun termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) yang diperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan seorang muslim yang pada zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antara lain: berzanjen, diba’an, yasinan, tahlilan (bacaan Tahlilnya, misalnya, tidak bid’ah sebab Rasulullah sendiri sering membacanya), mau’izhah hasanah pada acara temanten dan Muludan. 

Dalam Madarirushu’ud Syarhul Barzanji dikisahkan, Rasulullah SAW bersabda: "Siapa menghormati lahirku, tentu aku berikan syafa'at kepadanya di hari kiamat".
‎
Allaahumma shalli wa sallim wa baarik 'alaihi
Wahai Allah berikanlah kesejahteraan, keselamatan dan keberkahan kepada Nabi Muhammad.
Semoga bermanfaat.‎

Ketika NU menunjukkan kekuatannnya

Rapat Akbar NU 1992 di Lapangan Timur Senayan dihadiri 1 juta warga NU seluruh Indonesia, rapat atasa inisiasi Gus Dur sebagai Ketua PBNU waktu itu.

Ini di zaman Orde baru Pak Harto masih berkuasa, belum ada yang berani teriak reformasi, tak ada satupun ormas berani demo dan menghujat pemerintah.

kemana ormas2 yg sekarang koar2, mereka belum lahir, bahkan pendirinyapun, ngumpet dari kejaran pemerintahan Pak Harto

Gus dur tegas menolak pencalonan kembali Pak Harto sebagai presiden ( krn blm ada pemilihan presiden secara langsung )

Meskipun begitu ga ada yang teriak kofar kafir, teriak bunuh, ga ada caci maki, ga ada yg melawan aparat.

ga ada yg bilang:" yang tidak ikut rapat akbar NU berarti munafik, kafir, ahli neraka".

Ga ada  yg mengklaim, "ini membela islam, menentang rapat akbar berarti musuh islam"

Karena wong NU itu manut kyaine, diajari nurut, diajari sopan santun.

Sekarang kenapa NU ga ikut demo, karena kyai2 sepuh dan pimpinan NU melarang warganya,
NU itu benteng persatuan NKRI, dan NKRI itu bukan hanya islam, perjuangan NU sdh melampaui itu..

JIka saja warga NU seluruh Indonesia diperintahkan berkumpul, niscaya Jakarta ga sanggup menampung... ngerti ora son?

Akidah Ahlussunnah sebagai Jalan tengah

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) adalah aqidah pertengahan, moderat. Tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri. Tidak berlebihan dan juga tidak menggampangkan. Demikian sesuai karakter umat ini sebagai umat yang adil dan pertengahan. Allah Swt berfirman, “Dan demikian Kami jadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia (umat sebelummu) dan Rasulullah menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)
Kaum Muslimin tidak seperti kaum Nasrani yang menuhankan Isa, dan tidak seperti Yahudi yang menganggap Uzair sebagai anak Allah. Kaum Muslimin pun tidak mengajarkan kerahiban yang anti-dunia seperti Nasrani, dan pula tak seperti Yahudi yang mengaku sebagai anak dan kekasih Allah. Rasulullah Saw bersabda, “Peganglah petunjuk yang moderat (qaashidan), karena sesungguhnya orang yang memberat-beratkan agama, dia akan kalah.” (HR. Ahmad dari Buraidah). Seorang ulama tabi’in, Mutharrif bin Abdillah Asy-Syikhkhir berkata, “Sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengahnya.” (HR. Al-Baihaqi)

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sulit dilepaskan dari dua kelompok besar, yakni Asya’irah (termasuk Maturidiyah) dan Salafiyah. Keduanya mempunyai perbedaan dalam menyikapi nama-nama dan sifat-sifat Allah. Namun, banyak kesamaan dalam beberapa masalah. Ketika menafsirkan ayat, “Pada hari wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah menjadi hitam.” (QS. Ali ‘Imran: 106), Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya yaitu pada hari kiamat, di mana wajah-wajah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadi putih, dan wajah-wajah ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok sesat menjadi hitam.” (Tafsir Al-Qur`an Al-‘Azhim)

Namun demikian, sikap moderat bukan berarti harus lunak dalam segala hal dan di setiap waktu. Sebab, Islam mempunyai sikap yang jelas dan tegas dalam hal-hal tertentu, terutama ketika kehormatannya dilecehkan. Demikian beberapa poin kemoderatan Islam dalam masalah aqidah:
Kasus Sahabat Nabi

Di antara konsep ‘jalan tengah’ dalam aqidah Aswaja adalah bersikap moderat kepada para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, yakni tidak mengkultuskan mereka, tidak mencela, dan tidak merendahkan. Aswaja menempatkan para sahabat dalam posisi yang mulia, mencintai mereka, meyakini keadilannya, dan tidak turut campur dalam perselisihan yang pernah terjadi di antara mereka.

Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang lebih dulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 100)

Saat ditanya tentang pertikaian yang terjadi antara Ali dan Muawiyah, Umar bin Abdil Aziz berkata, “Itu adalah darah di mana Allah membersihkan tanganku dari turut campur di dalamnya. Karenanya, aku tidak ingin mengotori lisanku dengan membicarakannya.” (Al-Inshaf, Al-Baqillani)

Menjawab pertanyaan senada, Imam Ahmad membaca ayat 134 surat Al-Baqarah, “Itu adalah umat yang telah lalu. Mereka mendapatkan balasan apa yang mereka lakukan, dan kamu pun mendapatkan balasan apa yang kamu lakukan. Dan, kamu tidak akan ditanya tentang apa yang telah mereka lakukan.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir)

Ibnu Hajar berkata, “Ahlus Sunnah sepakat atas wajibnya menahan diri dengan tidak mencela seorang pun dari sahabat dikarenakan peperangan yang terjadi di antara mereka, sekalipun diketahui siapa yang benar di antara mereka. Sebab, mereka tidak berperang melainkan dengan ijtihad, di mana Allah Ta’ala memaafkan orang yang salah dalam berijtihad. Bahkan hadits shahih mengatakan bahwa orang yang salah dalam ijtihadnya mendapatkan satu pahala, sementara yang benar mendapatkan dua pahala.” (Fathul Bari)

Sementara Ibnu Taimiyah mengatakan, “Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bersihnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rasulullah Saw.” (Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah). Ibnu Katsir berkata, “Dan sahabat semuanya adalah adil menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena Allah telah memuji mereka dalam Kitab-Nya yang mulia. Dan juga karena Sunnah Nabawiyah menyatakan demikian ketika memuji mereka dalam seluruh akhlak dan perbuatan mereka.” (Al-Ba’its Al-Hatsits)

Lalu, bagaimana hukum orang yang mencela sahabat? Para ulama berbeda pendapat; ada yang mengatakan zindiq, kafir, ahlul bid’ah, dan ada juga yang mengatakan dibunuh. Imam Malik berkata, “Barangsiapa yang mencela salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw… , jika dia mengatakan bahwa mereka berada dalam kesesatan atau kekufuran; dia boleh dibunuh.” (Hukmu Sabbillah Ta’ala wa Ar-Rasul wa Ash-Shahabah/Syaikh Abdul Malik Al-Qasim)
Ibnu Hazm berkata, “Para sahabat semuanya adalah ahlul jannah. Artinya, siapa yang mencela sahabat dan memusuhi mereka, tak lain adalah musuh yang jauh dari rahmat Allah, busuk akhlaqnya, dan zindiq.” (Al-Lawami’, As-Safarini). Abu Zur’ah berkata, “Apabila engkau melihat seseorang menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka ketahuilah bahwa dia adalah zindiq.” (Tarikh Dimasyq). Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H) berkata, “Para fuqaha sepakat tentang hukum orang yang mencela sahabat, sekiranya dia menganggap sahabat tersebut halal darahnya, maka dia adalah kafir. Tetapi, jika dia tidak menganggap demikian, maka dia adalah fasiq.” (Hiwar Hadi` Ma’a Du’at At-Taqrib Ma’a Asy-Syi’ah, Abu Mush’ab)

Sebagian ulama mendasarkan pendapat mereka pada sabda Rasulullah Saw berikut, “Barangsiapa menyakiti sahabatku, maka dia juga menyakitiku. Dan siapa yang menyakitiku, sungguh dia telah menyakiti Allah.” HR. Ahmad (16201) dan At-Tirmidzi (3797) dari Abdullah bin Mughaffal.
Tindakan mencela apalagi sampai mengkafirkan sahabat Nabi adalah sikap melampaui batas. Dalam kitab Al-Iqtishad fil I’tiqad, Imam Al-Ghazali mengatakan: “Hendaknya kita hati-hati dalam mengafirkan orang lain selama masih ada jalan. Sebab, menghalalkan darah dan harta orang yang shalat ke arah kiblat, yang jelas-jelas mengatakan La ilaha illallah Muhammad Rasullullah; adalah salah!”

SILSILAH SANAD ULAMA' AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

SILSILAH SANAD ULAMA' AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH (Termasuk NU) SAMPAI SANADNYA KE ROSULULLAH SAW.
======================================================
Bersama Santri Aswaja Indonesia Community, Ma'ruf Khozin, Ibnu Abdillah Al-Katibiy, Shofiyyah An-Nuuriyyah , Von Edison Alouisci III, Bid'ah Jawa, Eres Satrio Dewo, Zon Jonggol , Suwuk Aswajamembongkarkeplinplanan Fahamneosalaf, Syarifah Nadira, Cinta Nayla
1. Nabi Muhammad SAW
2. Sayidina Ali
3. Muhammad (Putra Sayidina Ali, dari istri kedua Kaulah bin Ja’far)
4. Wasil bin Ato’
5. Amr bin Ubaid
6. Ibrohim Annadhom
7. Abu Huzail Al-Alaq
8. Abu Hasi Adzuba’i
9. Abu Ali Adzuba’i
10. Imam Abu Hasan Ala’asyari (Pendiri Faham “AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH”) 234 H Karangannya: Kitab Maqolatul Islamiyin, Al Ibanah, Al Risalah, Al-Luma’, dll
11. Abu Abdillah Al Bahily
12. Abu Bakar Al Baqilany, karangannya: Kitab At Tamhid, Al Insof, Al bayan, Al Imdad, dll.
13. Abdul Malik Imam Haromain Al Juwainy, karangannya : Kitab Lathoiful Isaroh, As Samil, Al Irsyad, Al Arba’in, Al kafiyah.
14. Abu hamid Muhammad Al Ghozali. Karnannya: Kitab Ihya Ulumuddin, Misyakatul Anwar, Minhajul Qowim, Minhajul Abidin dll.
15. Abdul hamid Assyeikh Irsani. Karangannya: kitab Al Milal Wannihal, Musoro’atul Fulasifah dll.
16. Muhammad bin Umar Fakhruraazi, Karangannya: Kitab Tafsir Mafatihul Ghoib, Matholibul ‘Aliyah, Mabahisul Masyriqiyah, Al Mahsul Fi Ilmil Usul.
17. Abidin Al Izzy, karangannya: Kitab Al Mawaqit Fi Ilmil Kalam.
18. Abu Abdillah Muhammad As Sanusi, Karangannya: Kitab Al Aqidatul Kubro dll.
19. Al Bajury, karangannya: Kitab Jauhar tauhuid Dll.
20. Ad Dasuqy, karangannya: Kitab Ummul Barohin, dll.
21. Ahmad Zaini Dahlan, karanggannya: Kitab Sarah jurumiyah, Sarah Al Fiyah, dll.
22. Ahmad Khotib Sambas Kalimantan, Karangannya: Kitab Fathul ‘Arifin, dll.
23. Muhammad Annawawi Banten Karangannya: Syarah Safinatunnaja, Sarah Sulamutaufiq, dll.
Yang Mayoritas Ulama Di Indonesia memakai Karangan Syeikh Nawawi Albantaniy sebagai Kitab Rujukan.
24. Mahfud Termas, muridnya:
– Arsyad Banjarmasin
– Syech Kholil Bangkalan Madura
– Abdi Shomad Palembang
25. Hasyim Asy’Ari (Pendiri NU)
Sejumlah murid yang berhasil dicetak menjadi ulama besar oleh Syaikhona Kholil bangkalan adalah, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari (Tebu Ireng Jombang), KH Wahab Hasbullah (Tambak Beras Jombang), KH Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), KH As’ad Syamsul Arifin (Sukorejo Situbondo), Kiai Cholil Harun (Rembang), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Abi Sujak (Sumenep), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Usymuni (Sumenep), Kiai Abdul Karim (Lirboyo Kediri), Kiai Munawir (Krapyak Yogyakarta), Kiai Romli Tamim (Rejoso Jombang), Kiai Abdul Majid (Bata-Bata Pamekasan).

LATIHAN KADER UTAMA ( L A K U T )



LATIHAN KADER UTAMA
( L A K U T )

A.  Pengertian
Lakut adalah pelatihan yang membentuk idealisme kader sehingga mampu mengem bangkan pengetahuan, sikap, skill organisatoris secara optimal
B.  Tujuan :
Umum : Membentuk kader yang mampu mengelola organisasi secara profesional dan mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan keorganisasian serta permasalahan sosial kemasyarakatan.
Khusus :
  1. Menguasai Aswaja NU sebagai idiologi organisasi serta mengaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
  2. Mempunyai wawasan kebangsaan yang luas dan  kepekaan yang tinggi  terhadap perma salahan organisasi dan ummat
  3. Memiliki sikap kritis, kreatif, kepeloporan, berkhlaqul karimah serta komitmen yang tinggi terhadap perjuangan organisasi
  4. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan keterampilan manajerial organisasi yang memadahi
C.  Target :
Terbentuknya kader yang mampu merancang dan mengelola organisasi secara optimal.
D.    Penyelenggara, Peserta dan waktu :
1. Penyelenggara
LAKUT diselenggarakan oleh PC atau diselenggarakan secara bersama oleh beberapa PC, berkoordinasi dengan PW. LAKUT juga boleh diselenggarakan oleh PW.
2. Peserta
§  Pernah mengikuti Lakmud dibuktikan dengan menunjukkan sertifikat
§  Pernah mengikuti follow up Lakmud minimal 3 kali
§  Peserta sebanyak-banyaknya adalah 30 orang
3.    Waktu
Alokasi waktu penyelenggaraan 35 jam efektif (minimal 4 hari)

E. JADWAL PELATIHAN:
. ALUR PELATIHAN     :











G.    Materi Pelatihan
1.       Perkenalan
a.  Pokok Bahasan
Perkenalan identitas peserta, pelatih dan panitia, misalnya kepribadian peserta, harapan sosial peserta (social deseribility)
b. Tujuan :
Tercapainya suasana interaktif yang hangat dan terbuka antara sesama peserta maupun dengan pelatih dan panitia
c.       Metode :
Permainan (identitas diri)
d.      Media
Kertas HVS, spidol
e.       Waktu
Waktu yang tersedia selama 60 menit
f.        Proses Kegiatan
1.       Pelatih membuka acara, kemudian memberikan gambaran singkat tentang perkenalan yang akan berlangsung.
2.       Pelatih membagikan kertas HVS kepada masing-masing peserta serta memberikan petunjuk untuk menggambarkan diri sendiri. Selanjutnya dalam gambar tersebut  peserta menuliskan kegiatan yang terkait dengan bagian gambar tersebut, baik yang lalu, sekarang dan masa datang.
3.       Gambar dikumpulkan pada tim pelatih kemudian dibagikan secara acak kepada peserta.
4.       Selanjutnya pelatih mempersilahkan peserta untuk membentuk lingkaran, kemudian masing-masing peserta secara bergantian membacakan gambar yang dipegangnya dengan cara memposisikan dirinya seperti dalam gambar tersebut. Selanjutnya nama yang terpanggil tersebut memberikan klarifikasi atas eksplorasi gambar tersebut.
5.       Sebelum ditutup pelatih memberikan kesimpulan secara garis besar tentang manfaat dari perkenalan tersebut.

2.      Kontrak Belajar
a.       Pokok bahasan
1.       Garis besar dan pokok-pokok materi latihan
2.       Kebutuhan serta harapan pribadi dan kelompok tentang pelatihan serta perangkat pelatihan
3.       Jadwal tentatif dan tata tertib latihan
b.     Tujuan
1.      Peserta mampu mengidentifikasi dan merumuskan kebutuhan terhadap materi latihan
2.      Peserta dan pelatih menetapkan kesepatakan bersama tata cara pelaksanaan latihan
c.       Metode
1.     Diskusi
2.     Brainstorming
d.       Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
Flep card
e.       Waktu :
90 menit efektif
f.        Proses kegiatan
1.      Pelatih menjelaskan tentang tujuan dan target lakut secara singkat. Demi terlaksananya pelatihan yang partisipatif maka, partisipasi dan peran aktif seluruh peserta sangat dibutuhkan. Oleh karena itu kesepakatan pelatihan harus dibuat bersama-sama
2.      Pelatih membagi kartu kepada seluruh peserta, kemudian peserta menuliskan harapan dan kebutuhan selama proses pelatihan.
3.      Pelatih mengidentifikasi kartu-kartu peserta sesuai dengan kategorinya dengan cara menempelkan kartu tersebut di papan.
4.      Selanjutnya pelatih dan peserta membahas aturan main tentatif pelatihan
5.      Pelatih menutup acara
3.    Ke IPNU an
a. Pokok bahasan :
1.         Makna sejarah perjuangan IPNU
2.         Filosofi perjuangan  IPNU
3.         Tantangan perjuangan IPNU sebagai organisasi pelajar dalam konteks lokal, nasional dan global
b. Tujuan :
1.    Memahami IPNU secara filosofis
2.        Menemukan kembali makna sejarah IPNU
c.     Metode
1.         Brainstorming
2.         Ceramah dan dialog
d. Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
OHP/In focus
e.   Waktu :
90 menit efektif
f.   Proses kegiatan
1.       Pelatih membagi makalah/materi kepada peserta dan memberi waktu 10 menit untuk membacanya.
2.       Pelatih membuka acara dan memberi penjelasan singkat tentang pokok bahasan materi, kemudian pelatih mengadakan brainstorming terkait dengan materi pokok bahasan.
3.       Nara sumber menyampaikan materi, dilanjutkan dengan dialog.
4.       Pelatih menyimpulkan garis besar dari hasil dialog yang diakhiri dengan penutupan
4.    Ke NU an
a.  Pokok bahasan :
1.    Peluang dan tantangan NU di era global
2.    Program & Kebijakan NU di Muktamar terakhir
3.    Kebijakan NU dalam pola distribusi kader di internal dan eksternal NU
b. Tujuan :
1.       Memahami Peluang dan tantangan NU di era global
2.       Memahami Program & Kebijakan NU di Muktamar mutakhir
3.       Memahami Kebijakan NU dalam pola distribusi kader di internal dan eksternal NU
c.   Metode
1.        Ceramah dan Dialog
2.        Brainstorming
d.  Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
OHP/In focus
e.   Waktu :
90 menit efektif
f.   Proses kegiatan
1.         Pelatih membagi makalah/materi kepada peserta dan memberi waktu 10 menit untuk membacanya.
2.         Pelatih membuka acara dan memberi penjelasan singkat tentang pokok bahasan materi, kemudian pelatih mengadakan brainstorming terkait dengan materi pokok bahasan.
3.         Nara sumber menyampaikan materi, dilanjutkan dengan dialog.
4.         Pelatih menyimpulkan garis besar dari hasil dialog yang diakhiri dengan penutupan
5.     ASWAJA
a.   Pokok bahasan :
1.            Aswaja sebagai manhajul fikr
2.           Makna sejarah kelahiran firqoh-firqoh dalam Islam
3.            Pandangan aswaja terhadap masalah sosial, ekonomi, politik dan budaya dan penera pannya.
4.            Kritik wacana aswaja
b.   Tujuan :
1.         Firqoh-firqoh dalam Islam
2.         Karakteristik 4 madzhab pada masalah fiqih
3.         Ijtihad dan istinbath dalam NU
c.   Metode
1.    Ceramah dan Dialog
2.    Brainstorming
d.  Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
e.   Waktu :
90 menit efektif
f.   Proses kegiatan
1.         Pelatih membagi makalah/materi kepada peserta dan memberi waktu 10 menit untuk membacanya.
2.         Pelatih membuka acara kemudian memberi penjelasan singkat tentang pokok bahasan materi, kemudian pelatih memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan pendapatnya tentang pengkaderan di lingkungan IPNU selama ini.
3.         Pelatih membacakan biodata nara sumber kepada peserta dan melaporkan kondisi peserta kepada nara sumber.
4.         Nara sumber menyampaikan materi ceramah, dan sekali-kali dapat mengadakan percakapan dengan peserta. Untuk efektif dan efesiensi sebaiknya penjelasan materi menggunakan OHP/in focus dan papan tulis.
5.         Pelatih memandu dialog, menyimpulkan materi pembahasan dan hasil dialognya. Kemudian pelatih mempersilakan nara sumber meninggalkan  ruangan sekaligus menutup acara

6.          Leadership                                            
a.   Pokok bahasan :
1.         Analisisi realitas kepemimpinan IPNU
2.         Rekonstruksi kepemimpinan pelajar
3.         Karakter pemimpin dan manajer
b.   Tujuan :
1.         Memahami tingkatan kemauan dan kemampuan anggota
2.         Memahami Kepemimpinan efektif
3.         Memahami Kepemimpinan substitusional
c.   Metode
1.         Ceramah dan Dialog
2.         Brainstorming
3.         Role Play
d. Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
e.   Waktu :
90 menit efektif
f.   Proses kegiatan
1.         Pelatih memperkenalkan  nara sumber kepada peserta dan menerangkan tentang pentingnya materi yang akan diberikan
2.         Nara sumber memberikan materi.
3.         Pelatih mereview materi dan menerapkan role play yang sesuai dengan leadership. Misalnya pelatih secara spontan meminta peserta mengangkat tangan, lalu pelatih menanyakan kembali “mengapa peserta mau mengangkat tangan ?”, maka peserta akan menjawab alasannya. Selanjutnya pelatih memberikan komentar bahwa kegiatan yang baru saja merupakan contoh salah satu model kepemimpinan.
4.         Pelatih membagi peserta menjadi beberapa kelompok guna membuat case study penerapan leadership yang efektif.
5.         Pelatih mereview materi disertai dengan tanya jawab
6.         Pelatih mengarahkan kesimpulan materi bersama-sama dengan peserta
7.         Pelatih menutup sesi

7.        Manajemen keuangan                          
a.   Pokok bahasan :
1.         Prinsip, proses dan fungsi managemen keuangan
2.         Sistem Pelaporan
3.         Fundrising
b.   Tujuan :
1.         Peserta memahami pentingnya usaha-usaha pendanaan yang terencana dan terorganisir
2.         Peserta mengerti substansi dalam manjemen  pengelolaan keuangan
c.    Metode
1.         Ceramah dan Dialog
2.         Brainstorming
3.         Penugasan
d.    Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
OHP/In focus
Kertas Transparan
e.    Waktu :
120 menit efektif
f.    Proses kegiatan
1.    Pelatih memperkenalkan  nara sumber kepada peserta dan menerangkan tentang pentingnya materi yang akan diberikan.
2.     Nara sumber memberikan materi dilanjutkan dengan dialog.
3.    Pelatih membagi peserta menjadi beberapa kelompok guna mengaplikasikan management keuangan.
4.    Pelatih mereview materi dan mengarahkan kesimpulan diakhiri penutup

8.       Analisis sosial                 
a.   Pokok bahasan :
1.       Pengertian ansos
2.       Tahapan-tahapan dalam analisis sosial
3.       Paradigma analisis sosial
4.       Rambu-rambu ansos
b.   Tujuan :
1.       Memahami proses dalam analisis sosial
2.       Mampu melakukan analisis sosial
c.    Methoda
1.        Ceramah dan Dialog
2.        Study Kasus
d.    Waktu :
240 menit efektif
e.    Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
OHP/In Focus
f.    Proses kegiatan
1.     Pelatih menerangkan kepada peserta tentang pentingnya materi yang akan diberikan
2.     Pelatih memperkenalkan nara sumber kepada peserta.
3.     Nara sumber menyampaikan materi dilanjutkan dengan dialog
4.     Pelatih memberikan penugasan kepada peserta yang terbagi menjadi beberapa kelompok tentang gejala sosial yang terkait dengan pelajar.
5.     Peserta mempresentasikan hasil analisisnya didepan forum selanjutnya dibahas bersama-sama dipandu oleh pelatih
6.     Pelatih mengarahkan kesimpulan materi bersama-sama dengan peserta
7.     Pelatih menutup sesi

9.        Gerakan sosial                                       
a.     Pokok bahasan :
1.       Pengertian gerakan sosial
2.       Bentuk-bentuk gerakan sosial di dunia
3.       IPNU sebagai kekuatan sosial
4.       Peranan IPNU sebagai gerakan intelektual dan gerakan kader
b.     Tujuan :
1.       Mamahami Bentuk-bentuk gerakan sosial di dunia
2.       Memahami IPNU sebagai kekuatan sosial
3.       Memahami Peranan IPNU sebagai gerakan intelektual
4.       Memahami peranan IPNU sebagai organisasi kader
c.    Methoda
    1. Ceramah dan Dialog
    2. Brainstorming
d.    Waktu :
90 menit efektif
e.    Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
OHP/In focus
f.    Proses kegiatan
1.             Pelatih menerangkan kepada peserta tentang pentingnya materi yang akan diberikan
2.             Pelatih memperkenalkan nara sumber kepada peserta
3.             Nara sumber menyampaikan materi dilanjutkan dengan dialog
4.             Pelatih mengarahkan kesimpulan materi bersama-sama dengan peserta
5.             Pelatih menutup sesi

10.     Pengantar Studi Ideologi Dunia
a.   Pokok bahasan :
1.         Pengertian ideologi
2.         Pengantar Sosialisme dan Kapitalisme
b.   Tujuan
1.       Memahami pengertian dan sejarah muncul ideologi dunia
2.       Mengetahui jenis-jenis ideologi dunia
c.    Metode
1.      Ceramah
2.      Dialog
3.      diskusi
d.   Media
1.   OHP
2.      Kertas planodan spidol
e.    Waktu
Alokasi waktu 90 menit
f.   Proses kegiatan:
1.     Pelatih mengkondisikan forum, lalu menyampaikan kisi-kisi mater
2.     Pelatih mengenalkan nara sumber dan  mempersilahkan menyampaikan materi
3.     Pelatih mereview secara singkat dan membuka  sessi dialog atau curah pendapat
4.     Pelatih menutup acara

11.         Strategic Planning                              
a.  Pokok bahasan :
1.        Melakukan analisa realitas internal dan eksternal
2.        Merumuskan visi, misi dan program unggulan IPNU
3.        Merumuskan program kerja IPNU dan diklasifikasikan pada jangka pendek, menengah dan panjang.
4.        Merumuskan program tahunan IPNU
b.   Tujuan :
1.          Memahami strategic planning dalam menyusun langkah-langkah ke depan
2.          Mampu merencanakan langkah strategis dan taktis serta merumuskannya terhadap persoalan atau program organisasi
c.    Metode
1.            Ceramah dan Dialog
2.            Brainstorming
3.            Penugasan
4.            Praktek
d.    Waktu :
240 menit efektif
e.    Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
OHP/In Focus
f.    Proses kegiatan
1.       Pelatih menerangkan kepada peserta tentang pentingnya materi yang akan diberikan dan memperkenalkan nara sumber kepada peserta
2.       Nara sumber menyampaikan materi dilanjutkan dengan dialog
3.       Pelatih menugaskan kepada peserta untuk membuat renscana strategic yang meliputi analisa SWOT (Kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman), Realitas eksternal, organisasi kompetitor dilingkungan IPNU
4.       Hasil diskusi kelompok dipresentasikan di depan forum
5.       Pelatih mengarahkan kesimpulan materi bersama-sama dengan peserta
6.       Pelatih menutup sesi

12.   Manajeman Program                                       
a.    Pokok bahasan :
Manajemen Program
b.   Tujuan :
1.       Memahami rencana kegiatan yang terarah dan sistematis
2.       Mampu membuat project proposal yang ideal
c.    Metode
1.       Ceramah dan Dialog
2.       Brainstorming
3.       Penugasan
d..   Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
OHP/In Focus
e.     Waktu :
180 menit efektif
f.    Proses kegiatan
1.         Pelatih menerangkan kepada peserta tentang materi pemrograman.
2.         Pelatih menugaskan kepada peserta yang dibagi dalam beberapa kelompok untuk membuat program berdasarkan hasil rencana strategis.
3.         Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi didepan forum
4.         Pelatih mengarahkan kesimpulan materi bersama-sama dengan peserta
5.         Pelatih menutup sesi

13.        Tehnik Pembuatan Proposal
a.        Pokok Bahasan
    1. Format proposal yang baik dan marketabel
    2. Strategi pendistribusian proposal

b.    Tujuan

1.           Memahami teknik penyusunan proposal yang baik dan marketable
2.           Mencetak kader IPNU yang memiliki ketrampilan menyusun proposal
3.           Mencetak kader yang mempu mendistribusikan proposal secara efektif
c.     Metode
3.       Ceramah dan dialog
4.       Praktek
d.  Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
OHP/In Focus
Kertas HVS dan perangkat alat tulis
e.    Waktu :
240      menit
f.     Proses kegiatan
1.        Pelatih membuka acara dan memjelaskan secara singkat tentang pokok tujuan materi yang akan diberikan
2.        Pelatih memberikan pertanyaan kepada peserta terkait dengan materi yang akan diberikan.
3.        Pelatih memperkenalkan nara sumber kepada peserta, selanjutnya mempersilahkan kepada nara sumber untuk menyampaikan materinya di lanjutkan dengan dialog.
4.        Selanjutnya untuk memperdalam materi pelatih membagi peserta ke dalam beberapa kelompok kecil untuk melakukan praktek pembuatan proposal.
5.        Untuk mempermudah peserta, pembuatan proposal seyogyanya diarahkan pada contoh-contoh kegiatan sederhana yang sering dilaksanakan oleh IPNU di tingkatannya.
6.        Setelah semuanya selesai, pelatih melakukan evalausi terhadap hasil yang dibuat oleh masing-masing kelompok.
7.        Pelatih mengulas secara singkat tentang hasil evaluasi tersebut serta memberikan saran-sarannya, diakhiri dengan menutup acara.

14.          Metode Pengorganisian Pelajar
a.            Pokok Bahasan
1.        Mengapa pengorganisiran penting
2.        Karakter organizer
3.        Langkah-langkah organizing

b.          Tujuan

1.         Mencetak kader yang mampu mengorganisir komunitas pelajar secara effective dan productive.

2.         Mencetak kader IPNU yang memiliki character sebagai organizer pelajar, memahami langkah-langkah pengorganisiran, dan mampu melaksanakan pengorganisiran.

c.      Metode
1.        Ceramah dan dialog
2.    Brainstorming
d.     Media
1.    Papan tulis white board
2.    Spidol dan kertas plano
3.    OHP/In Focus
e.     Waktu :
60 menit
f.     Proses kegiatan
1.           Pelatih membuka acara kemudian memberikan abstraksi singkat tentang materi yang akan di bahas bersama-sama.
2.           Pelatih memberikan pertanyaan/melakukan brainstorming dengan peserta seputar materi yang akan dibahas, hal ini untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta terhadap materi yang akan diberikan sebelum disampaikan oleh nara sumber.
3.           Pelatih memperkenalkan nara sumber kepada peserta, selanjutnya mempersilahkan kepada nara sumber untuk memaparkan materi dilanjutkan dengan dialog.
4.           Pelatih mengulas secara garis besar hasil dialog, kemudian mengarahkan kepada kesimpulan
5.           Pelatih memberikan beberapan saran penting terkait dengan materi diakhiri dengan penutup

15.      Networking dan Lobying
a.          Pokok bahasan
1.            Pengertian dan urgensi networking dan lobying
2.            Memahami Struktur jaringan
3.            Tehnik networking
4.            Tehnik Lobying
b.       Tujuan
1.             Mencetak kader IPNU yang memahami networking dan lobbying
2.             Menguasai teknik pembangunan jaringan dan lobi untuk memperlancar pelaksanaan program
c.         Metode
1.             Ceramah dan Dialog
2.             Brainstorming
3.             Penugasan
d.       Media
Papan tulis white board
Spidol dan kertas plano
OHP/In Focus  
e.        Waktu :
120 menit efektif
f.    Proses kegiatan
    1. Pelatih membuka acara kemudian memberikan abstraksi singkat tentang materi yang akan di bahas bersama-sama.
    2. Pelatih memberikan pertanyaan/melakukan brainstorming dengan peserta seputar materi yang akan dibahas, hal ini untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta terhadap materi yang akan diberikan sebelum disampaikan oleh nara sumber.
    3. Pelatih memperkenalkan nara sumber kepada peserta, selanjutnya mempersilahkan kepada nara sumber untuk memaparkan materi dilanjutkan dengan dialog.
    4. Pelatih mengulas secara garis besar hasil dialog, kemudian mengarahkan kepada kesimpulan
    5. Pelatih memberikan beberapan saran penting terkait dengan materi diakhiri dengan penutup.

16.       Evaluasi
a.   Pokok bahasan
1.  Review dan evaluasi akhir penyelenggaraan latihan
2.  Post test
b.       Tujuan
1.       Mampu mengorganisir dan mengungkapkan kembali pengalaman latihan peserta sejak awal sampai akhir pelatihan, sehingga mengetahui kelebihan dan kekurangan selama latihan berlangsung.
2.       Mampu memberikan umpan balik dan kritikan terhadap proses pelaksanaan latihan ini serta saran-saran mereka untuk perbaikan pelaksanaan latihan di masa yang akan datang
c.   Metode
1.       Angket
2.       Kuesioner
d.   Media
1.       Papan tulis white board dan spidolnya
2.       Kertas plano dan spidolnya
3.       Formulir isian evaluasi dan soal-soal post test
e.     Waktu
90 menit efektif
f.    Proses kegiatan
1.       Pelatih membuka acara, kemudian memberikan penjelasan singkat tentang evaluasi pelatihan dan tujuannya.
2.       Pelatih membagi peserta ke dalam beberapa kelompok diskusi, kemudian masing-masing kelompok merumuskan beberapa kekurangan dan kelebihan dari masing-masing sessi yang berkaitan dengan prosesi pelatihan, misalnya infrastruktur pelatihan, materi, pelatih, metoda, nara sumber, peserta, suasana, sistem kelekatan dll.
3.       Hasil diskusi di tuangkan dalam kertas plano kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok.
4.       Pelatih memandu untuk mengidentifikasi masing-masing permasalahan, sehingga menjadi entry point bagi peserta di dalam menyelenggarakan pelatihan berikutnya.
5.       Selanjutnya pelatih menyimpulkan secara garis besar hasil diskusi.
6.       Untuk melihat daya serap materi pelatihan selama proses pelatihan, maka pelatih memberikan post test kepada peserta.
7.       Diakhiri dengan penutupan acara.

17.        Rencana Tindak Lanjut
a.  Pokok bahasan
a.      Rencana tindak lanjut latihan
b.     Rumusan strategi tindak lanjut untuk pengembangan kemampuan peserta
b.    Tujuan
1.       Menyadari pentingnya suatu tindak lanjut latihan sebagai bentuk perwujudan dari pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang diperolehnya selama latihan
2.       Mampu menyusun suatu rencana tindak lanjut tentatif yang dapat dan mungkin dilaksanakannya pasca latihan pelatih
c.     Metode
1.       Angket
2.       Diskusi
d.  Media
1.     Papan tulis white board dan spidolnya
2.     Kertas plano dan spidolnya
3.     Lembar rancangan kegiatan pasca latihan
e.   Waktu
120 menit efektif
f. Proses kegiatan
1.      Pelatih membuka acara, kemudian memberikan penjelasan singkat tentang rencana tindak lanjut sebagai bentuk peningkatan pengalaman bagi pelatih yang akan terjun memandu latihan di wilayahnya
2.      Agar hasil rencana tindak lanjut tepat sasaran, maka sebaiknya rencana tindak lanjut di buat forum segitiga yakni peserta, pelatih, dan pimpinan struktural yang bersangkutan.
3.      Selanjutnya forum diserahkan kepada pimpinan struktural yang bersangkutan untuk bersama-sama melakukan rancangan kegiatan lanjutan bagi peserta latihan.
4.      Hasil pembahasan tersebut kemudian dituangkan dalam plano dan menjadi ketetapan kegiatan yang harus dilaksanakan
5.      Pelatih memberikan penegasan secara garis besar atas hasil perumusan rencana tindak lanjut, kemudian diakhiri dengan penutupan acara oleh pelatih.

---- ooO(anb)Ooo ----