Ketika NU menunjukkan kekuatannnya

Rapat Akbar NU 1992 di Lapangan Timur Senayan dihadiri 1 juta warga NU seluruh Indonesia, rapat atasa inisiasi Gus Dur sebagai Ketua PBNU waktu itu.

Ini di zaman Orde baru Pak Harto masih berkuasa, belum ada yang berani teriak reformasi, tak ada satupun ormas berani demo dan menghujat pemerintah.

kemana ormas2 yg sekarang koar2, mereka belum lahir, bahkan pendirinyapun, ngumpet dari kejaran pemerintahan Pak Harto

Gus dur tegas menolak pencalonan kembali Pak Harto sebagai presiden ( krn blm ada pemilihan presiden secara langsung )

Meskipun begitu ga ada yang teriak kofar kafir, teriak bunuh, ga ada caci maki, ga ada yg melawan aparat.

ga ada yg bilang:" yang tidak ikut rapat akbar NU berarti munafik, kafir, ahli neraka".

Ga ada  yg mengklaim, "ini membela islam, menentang rapat akbar berarti musuh islam"

Karena wong NU itu manut kyaine, diajari nurut, diajari sopan santun.

Sekarang kenapa NU ga ikut demo, karena kyai2 sepuh dan pimpinan NU melarang warganya,
NU itu benteng persatuan NKRI, dan NKRI itu bukan hanya islam, perjuangan NU sdh melampaui itu..

JIka saja warga NU seluruh Indonesia diperintahkan berkumpul, niscaya Jakarta ga sanggup menampung... ngerti ora son?

PESAN BAPAK UNTUK ANAKNYA DI FACEBOOK

Seorang pemuda duduk di hadapan laptopnya. Login facebook. Pertama kali yang dicek adalah inbox.

Hari ini dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia pedulikan selama ini. Ada 2 dua pesan yang selama ini ia abaikan. Pesan pertama, spam. Pesan kedua…..dia membukanya. Ternyata ada sebuah pesan beberapa bulan yang lalu.

Diapun mulai membaca isinya:

“Assalamu’alaikum. Ini kali pertama Bapak mencoba menggunakan facebook. Bapak mencoba menambah kamu sebagai teman sekalipun Bapak tidak terlalu paham dengan itu. Lalu bapak mencoba mengirim pesan ini kepadamu. Maaf, Bapak tidak pandai mengetik. Ini pun kawan Bapak yang mengajarkan.

Bapak hanya sekedar ingin mengenang. Bacalah !

Saat kamu kecil dulu, Bapak masih ingat pertama kali kamu bisa ngomong. Kamu asyik memanggil : Bapak, Bapak, Bapak. Bapak Bahagia sekali rasanya anak lelaki Bapak sudah bisa me-manggil2 Bapak, sudah bisa me-manggil2 Ibunya”.

Bapak sangat senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu mungkin tidak ingat dan tidak paham apa yang Bapak ucapkan ketika umurmu 4 atau 5 tahun. Tapi, percayalah. Bapak dan Ibumu bicara dengan kamu sangat banyak sekali. Kamulah penghibur kami setiap saat.walaupun hanya dengan mendengar gelak tawamu.

Saat kamu masuk SD, bapak masih ingat kamu selalu bercerita dengan Bapak ketika membonceng motor tentang apapun yang kamu lihat di kiri kananmu dalam perjalanan.

Ayah mana yang tidak gembira melihat anaknya telah mengetahui banyak hal di luar rumahnya.

Bapak jadi makin bersemangat bekerja keras mencari uang untuk biaya kamu ke sekolah. Sebab kamu lucu sekali. Menyenangkan. Bapak sangat mengiginkan kamu menjadi anak yang pandai dan taat beribadah.

Masih ingat jugakah kamu, saat pertama kali kamu punya HP? Diam2 waktu itu Bapak menabung karena kasihan melihatmu belum punya HP sementara kawan2mu sudah memiliki.

Ketika kamu masuk SMP kamu sudah mulai punya banyak kawan-kawan baru. Ketika pulang dari sekolah kamu langsung masuk kamar. Mungkin kamu lelah setelah mengayuh sepeda, begitu pikir Bapak. Kamu keluar kamar hanya pada waktu makan saja setelah itu masuk lagi, dan keluarnya lagi ketika akan pergi bersama kawan-kawanmu.

Kamu sudah mulai jarang bercerita dengan Bapak. Tahu2 kamu sudah mulai melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Kamu mencari kami saat perlu2 saja serta membiarkan kami saat kamu tidak perlu.

Ketika mulai kuliah di luar kotapun sikap kamu sama saja dengan sebelumnya. Jarang menghubungi kami kecuali disaat mendapatkan kesulitan. Sewaktu pulang liburanpun kamu sibuk dengan HP kamu, dengan laptop kamu, dengan internet kamu, dengan dunia kamu.

Bapak bertanya-tanya sendiri dalam hati. Adakah kawan2mu itu lebih penting dari Bapak dan Ibumu? Adakah Bapak dan Ibumu ini cuma diperlukan saat nanti kamu mau nikah saja sebagai pemberi restu? Adakah kami ibarat tabungan kamu saja?

Kamu semakin jarang berbicara dengan Bapak lagi. Kalau pun bicara, dengan jari-jemari saja lewat sms. Berjumpa tapi tak berkata-kata. Berbicara tapi seperti tak bersuara. Bertegur cuma waktu hari raya. Tanya sepatah kata, dijawab sepatah kata. Ditegur, kamu buang muka. Dimarahi, malah menjadi-jadi.

Malam ini, Bapak sebenarnya rindu sekali pada kamu.

Bukan mau marah atau mengungkit-ungkit masa lalu. Cuma Bapak sudah merasa terlalu tua. Usia Bapak sudah diatas 60 an. Kekuatan Bapak tidak sekuat dulu lagi.

Bapak tidak minta banyak…

Kadang-kadang, Bapak cuma mau kamu berada di sisi bapak. Berbicara tentang hidup kamu. Meluapkan apa saja yang terpendam dalam hati kamu. Menangis pada Bapak. Mengadu pada Bapak.Bercerita pada Bapak seperti saat kamu kecil dulu.

Andaipun kamu sudah tidak punya waktu samasekali berbicara dengan Bapak, jangan sampai kamu tidak punya waktu berbicara dengan Allah.
Jangan letakkan cintamu pada seseorang didalam hati melebihi cintamu kepada Allah.
Mungkin kamu mengabaikan Bapak, namun jangan kamu sekali2 mengabaikan Allah.

Maafkan Bapak atas segalanya. Maafkan Bapak atas curhat Bapak ini. Jagalah solat. Jagalah hati. Jagalah iman. ”

Pemuda itu meneteskan air mata, terisak. Dalam hati terasa perih tidak terkira...................
Bagaimana tidak ?
Sebab tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3 bulan beliau pergi untuk selama-lamanya.

SILSILAH SANAD ULAMA' AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

SILSILAH SANAD ULAMA' AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH (Termasuk NU) SAMPAI SANADNYA KE ROSULULLAH SAW.
======================================================
Bersama Santri Aswaja Indonesia Community, Ma'ruf Khozin, Ibnu Abdillah Al-Katibiy, Shofiyyah An-Nuuriyyah , Von Edison Alouisci III, Bid'ah Jawa, Eres Satrio Dewo, Zon Jonggol , Suwuk Aswajamembongkarkeplinplanan Fahamneosalaf, Syarifah Nadira, Cinta Nayla
1. Nabi Muhammad SAW
2. Sayidina Ali
3. Muhammad (Putra Sayidina Ali, dari istri kedua Kaulah bin Ja’far)
4. Wasil bin Ato’
5. Amr bin Ubaid
6. Ibrohim Annadhom
7. Abu Huzail Al-Alaq
8. Abu Hasi Adzuba’i
9. Abu Ali Adzuba’i
10. Imam Abu Hasan Ala’asyari (Pendiri Faham “AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH”) 234 H Karangannya: Kitab Maqolatul Islamiyin, Al Ibanah, Al Risalah, Al-Luma’, dll
11. Abu Abdillah Al Bahily
12. Abu Bakar Al Baqilany, karangannya: Kitab At Tamhid, Al Insof, Al bayan, Al Imdad, dll.
13. Abdul Malik Imam Haromain Al Juwainy, karangannya : Kitab Lathoiful Isaroh, As Samil, Al Irsyad, Al Arba’in, Al kafiyah.
14. Abu hamid Muhammad Al Ghozali. Karnannya: Kitab Ihya Ulumuddin, Misyakatul Anwar, Minhajul Qowim, Minhajul Abidin dll.
15. Abdul hamid Assyeikh Irsani. Karangannya: kitab Al Milal Wannihal, Musoro’atul Fulasifah dll.
16. Muhammad bin Umar Fakhruraazi, Karangannya: Kitab Tafsir Mafatihul Ghoib, Matholibul ‘Aliyah, Mabahisul Masyriqiyah, Al Mahsul Fi Ilmil Usul.
17. Abidin Al Izzy, karangannya: Kitab Al Mawaqit Fi Ilmil Kalam.
18. Abu Abdillah Muhammad As Sanusi, Karangannya: Kitab Al Aqidatul Kubro dll.
19. Al Bajury, karangannya: Kitab Jauhar tauhuid Dll.
20. Ad Dasuqy, karangannya: Kitab Ummul Barohin, dll.
21. Ahmad Zaini Dahlan, karanggannya: Kitab Sarah jurumiyah, Sarah Al Fiyah, dll.
22. Ahmad Khotib Sambas Kalimantan, Karangannya: Kitab Fathul ‘Arifin, dll.
23. Muhammad Annawawi Banten Karangannya: Syarah Safinatunnaja, Sarah Sulamutaufiq, dll.
Yang Mayoritas Ulama Di Indonesia memakai Karangan Syeikh Nawawi Albantaniy sebagai Kitab Rujukan.
24. Mahfud Termas, muridnya:
– Arsyad Banjarmasin
– Syech Kholil Bangkalan Madura
– Abdi Shomad Palembang
25. Hasyim Asy’Ari (Pendiri NU)
Sejumlah murid yang berhasil dicetak menjadi ulama besar oleh Syaikhona Kholil bangkalan adalah, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari (Tebu Ireng Jombang), KH Wahab Hasbullah (Tambak Beras Jombang), KH Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), KH As’ad Syamsul Arifin (Sukorejo Situbondo), Kiai Cholil Harun (Rembang), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Abi Sujak (Sumenep), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Usymuni (Sumenep), Kiai Abdul Karim (Lirboyo Kediri), Kiai Munawir (Krapyak Yogyakarta), Kiai Romli Tamim (Rejoso Jombang), Kiai Abdul Majid (Bata-Bata Pamekasan).

Bagaimana agar bisa terus konsisten berkarya?

1. Berkarya untuk berbagi. Bisa berbagi inspirasi, berbagi kebahagiaan, berbagi pikiran, berbagi imajinasi, atau berbagi solusi. Semakin rasa ingin berbaginya besar, pasti daya berkarya juga akan membesar.

2. Berkarya tidak sekadar untuk uang. Tentu boleh saja menulis demi uang, tapi jangan jadi mesin uang. Anggap saja bonus. Khawatirnya kalau tawaran uang sedikit, lantas nggak mau berkarya. Yakinlah kalau urusan uang itu akan mengikuti dengan sendirinya selama kita konsisten menjaga kualitas.

3. Jadi perbaiki kualitas, jangan sibuk mengejar popularitas. Kalau karya terbit dan berbagi informasi itu wajar saja, siapa tahu ada orang yang butuh informasi tersebut. Tapi jangan besar mulut. Sesuaikan antara omongan dengan kualitas karyanya. Akan jadi pencitraan kalau suka gembar-gembor tapi nyatanya karya miskin kualitas.

4. Jangan terlena pujian. Khawatirnya kalau tidak dipuji malah nggak mau lagi berkarya? Bila ada yang bilang, "Tulisan kamu bagus." Jawab saja, "Semoga bermanfaat ya." Lalu tanya, "Apa ada saran atau masukan?" Biar semangat belajarnya tumbuh, tidak terlena pada pujiannya.

5. Semangat belajarnya kudu melebihi semangat belajar orang-orang pada umumnya. Jadi kalau dapat uang dari menulis, ambil 20%-30% untuk membeli buku, majalah, ikut training atau apa pun agar ilmu dan pengalaman bertambah.

6. Sehebat-hebatnya nama kita, ujung-ujungnya akan menempel di batu nisan. Syukur-syukur terucap dalam doa orang lain. Tetapi satu hal yang bakal menemani kita di alam kubur, ialah ilmu yang bermanfaat. Jadi tidak perlu eman-eman (pelit) berbagi ilmu. Jangan takut bakal muncul banyak pesaing kalau kita share ilmu, fokus saja pada kemanfaatan ilmu.

7. Kalau kita begitu semangat berkarya ketika kumpul dengan teman-teman (di komunitas misalnya), tetapi menjadi sangat lesu saat berkarya sendirian, maka koreksi lagi. Apa sebenarnya tujuan kita berkarya? Apa niat kita berkarya? Apa alasan kita berkarya? Kembalilah kepada pertanyaan-pertanyaan dasar lagi.

8. Biar terus semangat berkarya, berikan karya kita sebagai hadiah terbaik untuk orang-orang terdekat yang kita sayangi. Beberapa buku yang saya kerjakan misalnya, saya sengaja siapkan untuk menjadi bacaan untuk Ayyub, Nisa, dan Afifah kelak. Itu bekal untuk mereka, sebab saya tahu tidak selamanya bisa membersamai mereka.

KISAH KESETIAAN ANTARA SUAMI DAN ISTRI

Hiduplah seorang laki2 yg sangat miskin bersama istrinya.

Suatu sore, sang istri meminta dibelikan sisir untuk rambutnya
yg panjang agar terlihat anggun.

Sang suami memandangnya dengan sedih, dan berkata: "Aku belum bisa memenuhi permintaanmu. Bahkan untuk jam tanganku saja aku belum bisa membeli talinya".

Istrinya tidak membantah, bahkan tampak senyum diwajahnya.

Keesokan harinya, setelah selesai dari pekerjaannya, sang suami pergi ke pasar dan menjual jam tangannya, yang tanpa tali itu dengan harga murah. Kemudian membeli sisir permintaan istrinya.

Ketika sampai di rumah sore hari sambil membawa sisir yang
dibelinya itu, ia melihat rambut istrinya sudah sangat pendek sekali,
Dan dilihat tangan istrinya memegang tali jam tangan
(rupanya sang istri memotong rambutnya dan menjualnya untuk membeli tali jam tangan).

Lalu keduanya saling memandang dengan air mata yg bercucuran.
Bukan karena apa yg mereka lakukan sia-sia!! Tapi karena keduanya merasa saling mencintai. Keduanya sama-sama ingin memenuhi apa yg diinginkan satu sama lain.

Subhanallah...
__

Ingatlah selalu..
Bahwa mencintai atau dicintai seseorang itu harus berusaha
membahagiakannya dengan banyak cara,
Bahkan jika hal itu berharga mahal..
Karena cinta sejati bukanlah pada kata-kata, tapi pada perbuatan.

Semoga kita selalu taat dan setia terhadap suami/istri (yang sudah berkeluarga). Dan yg belum berkeluarga, Semoga Allah memberikan jodoh yg terbaik buat sahabat semua.

Aamiin ya robbal'alamiin.

Krisis Pergaulan

Sampai pada akhirnya munculnya istilah "kepo", kita jadi kurang bisa menghargai rasa keingintahuan orang dan usaha untuk membuka obrolan.

Sampai pada akhirnya munculnya istilah "modus", kita jadi kurang bisa menghargai rasa ingin membantu atau menolong dr seseorang yg biasanya lawan jenis.

Sampai pada akhirnya munculnya istilah "galau", kita jadi kurang bisa menghargai ekspresi emosi seseorang yg biasanya dia tuangkan pada kata atau bahasa.

Sampai pada akhirnya munculnya istilah "baper", kita jadi kurang bisa menghargai perasaan orang lain yg mmg trkadang bisa muncul begitu mudahnya.

Apakah pergaulan kita akan terus menerus menggerus rasa saling menghargai kita ? Digunakan boleh, tapi seperlunya. Ingat situasi dan kondisi :)
Mari selamatkan norma pergaulan kita, kita Indonesia yg punya norma-norma :

Silahkan bagikan semoga Bermanfaat

Sweet relationship itu

Waktu cowo bikin hal2 kecil yang manis
Waktu cowo bilang iloveyou ke si cewe
Waktu cowo mainin rambut cewe
Waktu cowo nyanyiin lagu ke cewe
Waktu cowo ngelus pipi cewe
Waktu cewe nyender ke bahu/dada si cowo cium kening
Waktu cowo puji si cewe
Waktu cowo godain si cewe sampe blushing gt deh
Waktu cowo cium pipi&kening si cewe
Waktu cowo kejar2an sama cewe
Waktu cowo bilang kata2 romantis ke cewe
Waktu cowo belain si cewe pas lg di judge
Waktu cowo nyemangatin si cewe
Waktu cowo kasih kabar ke cewe
Waktu cowo cemburu pas cewe lg deket sama cowo lain
Waktu cowo berantem karna ada cowo lain yg genit sama cewe nya
Waktu cowo kasih bunga
Waktu cowo kasih coklat
Waktu cowo kasih boneka
Waktu cowo cubit pipi cewe pelan
Waktu cowo kelitikin cewe
Waktu cowo posesif
Waktu cowo peluk cewe
Waktu cewe manyun si cowo cekikikan
Waktu cewe ngomelin cowo si cowo makin godain si cewe
Waktu cowo foto bareng
Waktu cowo pegang tangan cewe pas lg jalan berdua
Waktu cowo kasih hadiah pas ultah cewe
Waktu cowo kasih hadiah anniv untuk hubungannya
Waktu mereka saling support

Mau