Kiat-kiat Menuju Wirausaha Sukses


Dalam menjalankan sebuah usaha tentu harus memiliki kiat-kiat usaha tersebut dapat berjalan, berkembang, maju dan sukses. Dan berdasarkan hasil observasi dan pembelajaran penulis mengenai kiat-kiat menuju usaha yang sukses penulis mendapatkan hasil sebagai berikut:

1. Kerja keras

Dalam menjalankan usaha kita perlu menyadari bahwa setiap orang yang menekuni bidang usaha, usaha apapun itu, dituntut untuk memiliki pemikiran untuk selalu bekerja keras dan tekun.
Kerja keras merupakan modal dasar untuk keberhasilan seseorang. Rosulullah sangat marah melihat orang pemalas dan suka berpangku tangan. Bahkan beliau secara simbolik memberi hadiah kampak dan tali kepada seorang lelaki agar mau bekerja keras mencari kayu dan menjualnya ke pasar. Demikian pula jika mau berusaha, mulailah berusaha sejak subuh. Jangan tidur sesudah subuh, cepatlah bangun dan mulailah kegiatan untuk hari itu. Akhirnya laki-laki itu sukses dalam hidupnya.

Sikap kerja keras harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Dalam hal ini, unsur disiplin memainkan peranan penting. Sebab, bagaimana orang mau bekerja keras jika disiplin tidak ada. Dia harus mengatur waktu, sesuai dengan irama kehidupan, bangun pagi, siap-siap untuk kerja, mulai kerja, istirahat (cukup), dan seterusnya sampai malam tiba. Kerja keras adalah sebuah langkah memaksimalkan segala kemampuan anda untuk menjalankan usaha anda. Urutan berikutnya adalah ketekunan terkadang hasil usaha tidak selalu sesuai harapan, sehingga kerja keras yang telah kita lakukan seolah percuma sehingga memicu tekanan mental dan keputusaan, disinilah waktunya mengisi kembali pengharapan dengan ketekunan seperti kata banyak orang yang telah sukses berkata kalau mereka sukses bukan karena pintar melainkan karena tekun. Ada satu lagi elemen penting dalam keberhasilan kerja keras, yaitu berserah diri kepada Allah SWT dengan selalu berdo’a kepada-Nya.Bagi seorang yang beriman kepada Allah ini adalah bagian untuk selalu memiliki pengharapan atas segala kerja keras dan ketekunannya.

2. Kerja sama dengan orang lain

Sebagai makhluk sosial, yang mau tidak mau kita musti bergantung kepada orang lain, maka dari itu semestinyalah kita belajar bergaul dan membawa diri pada orang lain. Dalam menjalankan sebuah usaha peran orang lain dalam usaha anda akan sangat penting mulai dari publikasi dan membangun jaringan usaha, jaringan modal, dan rekan kerja.

Kemampuan anda berkomunikasi dan bekerjasama dengan oranglain adalah nilai tersendiri, bagi pelanggan kepuasan bekerjasama dengan anda akan membantu anda dlam publikasi, kepuasan terhadap hasil kerja anda akan diceritakan secara berulang-ulang kepada pengguna lain. Sehingga membatu anda dalam mengenalkan usaha anda pada oranglain secara luas dan lebih terpercaya.
Terkadang dalam menghadapi sebuah proyek usaha anda tidak mampu menjalankanya sendirian anda harus menggandeng oranglain untuk menyelesaikannya kemampuan anda bekerjasama sehingga menghasilkan sebuah kerjasama yang saling menguntungkan terhadap rekan usaha akan mendongkrak lebih banyak proyek untuk dapat anda terima. Kerjasama yang dimaksud bisa saja berbentuk modal atau rekan usaha.

3. Penampilan yang baik

Penampilan adalah cerminan pribadi dan perilaku seseorang, oleh karena itu, untuk menunjang usaha yang kita lakukan maka penampilan juga sangat berperan, setidaknya memang demikian bagi orang yang baru mengenal anda. Meski tidak terlalu mutlak bagi orang yang telah lama mengenal anda, tetapi menjalankan sebuah usaha adalah sama dengan bertemu dengan banyak orang baru setiap hari, contoh saja seorang pengusaha warung makan, akan bertemu banyak orang baru setiap hari. Seorang arsistek akan bertemu banyak calon klien setiap minggu, jadi anda harus memberikan kesan baik saat bertemu dengan mereka setiap harinya. Setelah member kesan yang baik saat pertama bertemu yang lebih utama soal berpenampilan baik adalah penampilan prilaku jujur, disiplin. Banyak orang tertipu dengan rupa nan elok tetapi ternyata orangnya penipu ulung. Ingatlah, pribadi yang baik dan jujur akan disenangi orang dimana-mana dan akan sukses bekerja sama dengan siapa saja.

4. Pandai Membuat Keputusan

Setiap wirausahawan akan menghadapi banyak pilihan keputusan dalam menjalankan usahanya. Jika anda dihadapkan pada alternatif, harus memilih, maka buatlah pertimbangan yang matang. Kumpulkan berbagai informasi, boleh minta pendapat orang lain, setelah itu ambil keputusan, jangan ragu-ragu serta anda harus siap bertanggung jawab atas keputusan anda tanpa menyalahkan orang lain. Dengan berbagai alternatif yang ada dalam pikirannya ia akan dapat mengambil keputusan terbaik.

Keputusan terbaik menurut cara pandang anda mungkin akan berbeda dengan orngalain, tetapi aspek kemampuan anda untuk mengelola hasil keputusan tersebut adalah yang menjadi referensi utama anda terkadang ada banyak kesempatan besar datang tetapi yang harus anda pilih adalah sesuatu yang dapat anda kerjakan paling maksimal, karena bukan saja soal keuntungan financial tetapi juga hargadiri usaha anda.

5. Ambisi Untuk Maju

Kita harus mempunyai semangat tinggi, mau berjuang untuk maju. Orang-orang yang gigih dalam menghadapi pekerjaan dan tantangan., biasanya banyak berhasil dalam kehidupan. Apapun jenis pekerjaan yang dilakukan, profesi apapun yang dihadapi, kita harus mampu melihat ke depan dan berjuang untuk mengapai apa yang kita idam-idamkan.

Ambisi untuk maju membuat seseorang bersemangat untuk terus mengembangkan diri, memperluas pengetahuan, meningkatkan kemampuan, dan memperkaya persaudaraan. Sehingga memiliki memliki multi kompetensi dalam kehidupannya sehingga dapat melihat berbagai peluang usaha yang ada baik didalam maupun diluar wilayahnya.

Dan hal yang juga bukan hal bisa dianggap remeh adalah fakta bahwa dunia wira usaha telah memberikan andil besar dalam pembangunan ekonomi nasional merupakan dimana telah meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat meningkat. Member serapaan terhadap angkatan kerja sehingga menurunkan pengangguran, Faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan ekonomi negara yang sedang berkembang. Tujuan dalam pembangunan ekonomi ialah sebagai peningkatan pendapatan nasional dan produktivitas.

Etika Profesi


Etika Berprofesi Mark Zukerberg, Cameron Winklevoss, Tyler Winklevoss, dan Divya Narendra, ketiganya adalah mahasiswa Havard menuduh Zuckerberg sengaja membuat mereka yakin bahwa ia akan membantu mereka membangun jejaring sosial yang disebut HarvardConnection.com (kemudian disebut ConnectU).

Mereka mengajukan gugatan pada tahun 2004 tetapi ditolak secara teknis pada tanggal 28 Maret 2007. Gugatan itu diajukan kembali tidak lama kemudian di pengadilan federal inBoston, dan sidang dijadwalkan untuk 25 Juli 2007, dengan agenda pembatalan oleh Zuckerberg. Pada sidang hakim mengatakan kepada ConnectU bahwa bagian-bagian pengaduan terdapat kekurangan dan memberi kesempatan mereka untuk mengubahnya.

Facebook melawan gugatan dalam hal Sosial Butterfly, sebuah proyek yang dikeluarkan oleh The Winklevoss Chang Group, sebuah kemitraan yang diduga antara ConnectU dan i2hub. Ditujukan kepada pendiri ConnectU, Cameron Winklevoss, Tyler Winklevoss, Divya Narendra, dan Wayne Chang, pendiri i2hub. Para pihak mencapai kesepakatan penyelesaian rahasia pada Februari 2008.

Pada tanggal 25 Juni 2008, kasus ini diselesaikan dan Facebook setuju untuk mentransfer lebih dari 1,2 juta saham biasa dan membayar $ 20 juta tunai. Pada bulan Mei 2010, dilaporkan bahwa pendiri ConnectU itu menuduh Zuckerberg melakukan penipuan efek dengan melakukan penafsiran menyesatkan mengenai nilai saham. Para pendiri ConnectU mendapatkan kesan nilainya $ 45 juta.

Namun, pemahaman itu didasarkan pada penilaian saham utama, sedangkan mereka hanya menerima saham biasa. Akibatnya adalah saham yang diberikan kepada pendiri sebagai bagian penempatan nilainya kurang dari 75% dari yang Facebook katakan, dan kesepakatan kas-dan-saham keseluruhan senilai 50% kurang. Sejak saat penempatan, saham tersebut telah diperdagangkan sebesar $ 76 per saham pada pasar sekunder, yang akan menempatkan nilai penyelesaian pada $ 120,000,000. Menurut satu laporan, Winklevoss bersaudara berencana untuk menuntut lagi berdasarkan dugaan bahwa Facebook menyesatkan mereka dalam hal penilaian penempatan.

Prinsip Hidup


1. Temukan Hal Yang menjadi Passionmu

Salah satu yang pantas ditiru dari Mark Zuckerberg adalah passionnya untuk mengembangkan situs facebook miliknya. Dengan melakukan sesuatu yang menjadi passionmu, maka kamu akan memiliki energi tak terbatas untuk berusaha semaksimal dan sebaik mungkin. Ini juga berarti kamu akan memiliki energi untuk bangkit saat ada masalah dalam usahamu.

2. Lakukan Hal Penting Yang Bisa Kamu Lakukan

Zuck menjalani hari – harinya dengan membuat skala prioritas tentang hal yang akan dilakukannya. Menurut pengakuannya, hampir setiap hari dia terbangun dengan pertanyaan “Apakah aku telah melakukan hal terpenting yang bisa aku lakukan?”Membuat skala prioritas ini akan membuatmu fokus terhadap permasalahan – permasalahan yang menuntut perhatianmu terlebih dulu, sehingga kamu tidak akan membuang – buang waktu dengan masalah sepele dan mengabaikan masalah penting yang ada di depan matamu. Jadi mulai belajar buat skala prioritas yuk!

3. Ingatlah Bahwa Sukses Ada Setelah Kegagalan

Zuck telah lebih dulu membuat situs Facemash? Namun ternyata Facemash ini tidak berkembang baik, atau mungkin bisa juga dibilang gagal. Namun dari kegagalan ini Mark justru bisa berinovasi dan belajar dari kegagalannya dengan membuat Facebook yang tentu saja akrab banget buat kita.

4. Persiapkan Dirimu dari Beragam Kritikan

Setelah meyakini prinsip dan kata hatimu, kamu harus mulai menyiapkan dirimu untuk di kritik, baik kritik menyerang maupun yg membangun ditujukan untukmu. Facebook tidak mungkin sebesar sekarang jika Zuck tidak siap dengan kritik hingga pelanggaran situs Facebook dari penjuru dunia

Definisi Berpikir, Kreatif dan Inovatif


Berpikir adalah proses yang intens untuk memecahkan masalah, dengan menghubungkan satu hal dengan yang lain, sehingga mendapatkan pemecahan. Yang kemudian menjadi masalah adalah bahwa hal-hal yang akan dihubungkan tersebut belum tentu ada atau hadir di benak kita.  Oleh karena itu berpikir melibatkan kemampuan untuk membayangkan atau menyajikan objek-objek yang tidak ada secara fisik atau kejadian-kejadian yang tidak sedang berlangsung.
Agar seseorang dapat membayangkan atau menyajikan hal-hal yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah, maka untuk itu dibutuhkan bahan-bahan dasar. Bahan-bahan dasar inilah yang membangun pikiran dan kemudian menentukan model berpikir seseorang.  Menurut Morris (1990), bahan-bahan dasar itu adalah bayang-bayang (image) dan konsep-konsep, untuk selanjutnya konsep-konsep tersebut kemudian ditransformulasikan ke dalam bentuk kata-kata atau bahasa atau dalam bentuk lainnya.
Yang dimaksud dengan kreativitas adalah menghadirkan suatu gagasan baru. Kreativitas itu merupakan sebuah proses yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan. Anda harus mengetahui bahwa kreativitas tiap-tiap orang berbeda-beda, kemampuan seseorang dalam bakat, pengetahuan, dan lingkungan juga dapat mempengaruhi kreativitas. Kreativitas merupakan sumber yang penting dari kekuatan persaingan karena adanya perubahan lingkungan.
Inovasi menurut Goman (1991) merupakan penerapan secara praktis gagasan kreatif. Inovasi tercipta karena adanya kreativitas yang tinggi. Kreativitas adalah kemampuan untuk membawa sesuatu yang baru ke dalam kehidupan.
Pendapat lain menyebutkan kreativitas itu adalah kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru ini :
a.   Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsure, data, variabel, yang sudah ada sebelumnya.
b.    Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Conny Semiawan (1984).
Dalam mengelola usaha, keberhasilan seorang Wirausaha terletak pada sikap dan kemampuan berusaha, serta memiliki semangat yang tinggi. Sedangkan semangat atau etos kerja yang tinggi seorang Wirausaha itu terletak pada kreativitas dan rasa percaya pada diri sendiri untuk maju dalam berwirausaha. Seorang Wirausaha yang kreatif dapat menciptakan hal-hal yang baru untuk mengembangkan usahanya. Kreativitas dapat menyalurkan inspirasi dan ilham terhadap gagasan-gagasan baru untuk kemajuan dalam bidang usahanya. Kita tidak mungkin memiliki gambaran yang lengkap mengenai masa depan, tetapi tindakan kita akan memiliki konsekuensi di masa depan. Oleh karena itulah, kita memerlukan pemikiran yang kreatif yang membantu untuk melihat konsekuensi dari tindakan serta untuk memberikan alternatif tindakan. Pemikiran kreatif berhubungan secara langsung dengan penambahan nilai, penciptaan nilai, serta penemuan peluang bisnis.
Seorang wirausaha yang selalu ingin berhasil dalam menjalankan perusahaanya harus selalu bisa menciptakan inovasi-inovasi yang baru. Seorang wirausahawan yang kreatif dan inovatif akan mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi bisnis pada zaman sekarang. Seorang wirausahawan yang inovatif akan selalu menciptakan produk-produk yang baru untuk kemajuan usahanya.
Inovasi bukanlah berarti menciptakan sebuah produk baru. Inovasi dapat berwujud apa saja, baik dalam bentuk jasa maupaun produk. Inovasi juga bisa dilakukan dengan mengamati produk atau jasa yang sudah ada, kemudian melakukan modifikasi untuk membuat hasil yang lebih baik. Atau dari modifikasi tersebut akan melahirkan sebuah produk baru lagi.

Tahap-Tahap dan Proses dalam Kewirausahaan

Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha :
  1. Tahap memulai, tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. Juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri / manufaktur / produksi atau jasa.
  2. Tahap melaksanakan usaha atau diringkas dengan tahap "jalan", tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek : pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
  3. Mempertahankan usaha, tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi
  4. Mengembangkan usaha, tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.
Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave (1996 : 3), proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausaha yang besar. Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang bersal dari individu, seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembangan menajdi kewirausahaan melalui proses yang dipengrauhi lingkungan, organisasi dan keluarga (Suryana, 2001 : 34).

Secara ringkas, model proses kewirausahaan mencakup tahap-tahap berikut (Alma, 2007 : 10 – 12) :
  1. proses inovasi
  2. proses pemicu
  3. proses pelaksanaan
  4. proses pertumbuhan

Berdasarkan analisis pustaka terkait kewirausahaan, diketahui bahwa aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan wirausaha adalah :
  • mencari peluang usaha baru : lama usaha dilakukan, dan jenis usaha yang pernah dilakukan
  • pembiayaan : pendanaan – jumlah dan sumber-sumber dana
  • SDM : tenaga kerja yang dipergunakan
  • kepemilikan : peran-peran dalam pelaksanaan usaha
  • organisasi : pembagian kerja diantara tenaga kerja yang dimiliki
  • kepemimpinan : kejujuran, agama, tujuan jangka panjang, proses manajerial (POAC)
  • Pemasaran : lokasi dan tempat usaha

Faktor-Faktor Motivasi dalam Kewirausahaan


  • Memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini berfungsi untuk menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui langkah yang harus dilakukan oleh pengusaha tersebut
  • Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri mendasar di mana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi terlebih dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.
  • Berorientasi pada prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap waktu segala aktifitas usaha yang dijalankan selalu dievaluasi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.
  • Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha kapanpun dan dimanapun, baik dalam bentuk uang maupun waktu.
  • Kerja keras. Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ dia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru selalu mendorongnya untuk bekerja kerjas merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.
  • Bertanggungjawab terhadap segala aktifitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggungjawab seorang pengusaha tidak hanya pada segi material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.
  • Komitmen pada berbagai pihak merupakan ciri yang harus dipegang teguh dan harus ditepati. Komitmen untuk melakukan sesuatu memang merupakan kewajiban untuk segera ditepati dana direalisasikan.
  • Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak. Hubungan baik yang perlu dlijalankan, antara lain kepada : para pelanggan, pemerintah, pemasok, serta masyarakat luas.

PERAN WIRAUSAHAAN DALAM PEREKONOMIAN NASIONAL

Seorang wirausaha berperan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan dalam mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, serta meningkatkan daya beli pelakunya. Secara eksternal, seorang wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari kerja. Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan oleh seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang.

Menurunnya tingkat pengangguran berdampak terhadap naiknya pendapatan perkapita dan daya beli masyarakat, serta tumbuhnya perekonomian secara nasional. Selain itu, berdampak pula terhadap menurunnya tingkat kriminalitas yang biasanya ditimbulkan oleh karena tingginya pengangguran.
Seorang wirausaha memiliki peran sangat besar dalam melakukan wirausaha. Peran wirausaha dalam perekonomian suatu negara adalah:

  • Menciptakan lapangan kerja
  • Mengurangi pengangguran
  • Meningkatkan pendapatan masyarakat
  • Mengombinasikan faktor–faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian)
  • Meningkatkan produktivitas nasional.

CIRI - CIRI DAN KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN

Menurut Munawir Yusuf (1999), Ciri kewirausahaan yaitu:
  • Motivasi berprestasi
  • Kemandirian
  • Kreativitas
  • Pengambilan resiko (sedang)
  • Keuletan
  • Orientasi masa depan
  • Komunikatif dan reflektif
  • Kepemimpinan
  • Locus of Contro
  • Perilaku instrumental
  • Penghargaan terhadap uang.
Ciri dan Karakteristik Wirausahaan Tangguh:
  • Berpikir dan bertindak strategik, adaptif terhadap perubahan dalam berusaha mencari peluang keuntungan termasuk yang mengandung resiko agak besar dan dalam mengatasi masalah.
  • Selalu berusaha untuk mendapat keuntungan melalui berbagai keunggulan dalam memuaskan langganan.
  • Berusaha mengenal dan mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan (dan pengusahanya) serta meningkatkan kemampuan dengan sistem pengendalian intern.
  • Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan ketangguhan perusahaan terutama dengan pembinaan motivasi dan semangat kerja serta pemupukan permodalan.
  • Memiliki sifat keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme.
  • Selalu berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik ddan memiliki inisiatif.
  • Memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan.
  • Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
  • Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
  • Memiliki persepsi dan cara pandang yang berorientasi pada masa depan.
  • Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja keras.

HAKEKAT KEWIRAUSAHAAN

Dari beberapa konsep yang ada ada 6 hakekat penting kewirausahaan sebagai berikut ( Suryana,2003 : 13), yaitu :
  1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Acmad Sanusi, 1994).
  2. Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) (Drucker, 1959).
  3. Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (Zimmerer. 1996).
  4. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (Soeharto Prawiro, 1997).
  5. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative), dan sesuatu yang berbeda (inovative) yang bermanfaat memberi nilai lebih.
  6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melaui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.

PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN

Berasal dari kata enterpteneur yang berarti orang yang membeli barang dengan harga pasti meskipun orang itu belum mengetahui berapa harga barang yang akan dijual. Wirausaha sering juga disebut wiraswasta yang artinya sifat-sifat keberanian, keutamaan, keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri. Meski demikian wirausaha dan wiraswasta sebenarnya memiliki arti yang berbeda . Wiraswasta tidak memiliki visi pengembangan usaha sedangkan wirausaha mampu terus berkembang dan mencoba usaha lainnya. Istilah lainnya yang semakna dengan wirausaha adalah wiraswasta. Istilah wiraswasta lebih sering dipakai dan lebih dikenal daripada wirausaha. Padahal, keduanya bermakna sama dan merupakan padanan dari kata entrepreneur. Kata wiraswasta berasal dari gabungan wira-swa-sta dalam bahasa sansekerta. Wira berarti utama, gagah, luhur, berani, teladan, atau pejuang; swa berarti sendiri atau mandiri; sta berarti berdiri; swasta berarti berdiri ditas kaki sendiri atau dengan kata lain berdiri di atas kemampuan sendiri. Sedangkan wirausahawan mengandung arti secara harfiah, wira berarti berani dan usaha berarti daya upaya atau dengan kata lain wirausaha adalah kemampuan atau keberanian yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih kesuksesan.

Berdasarkan makna-makna tersebut, kata wiraswasta atau wirausaha berarti pejuang yang gagah, luhur, berani dan pantas menjadi teladan di bidang usaha. Dengan kalimat lain, wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat kewiraswastaan atau kewira-usahaan. Ia bersikap berani unuk mengambil resiko. Ia juga memiliki leutamaan, kreatifitas, dan teladan dalam menangani usaha atau perusahaan. Keberaniannya berpijak pada kemampuan sendiri atau kemandiriannya. Pengertian lainnya menyebutkan kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan resiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi.

Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Richard Cantillon (1775) misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi inikewirausahaan adalah lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian. Berbeda dengan para ahli lainnya, menurut Penrose (1963) kegiatan kewirausahaan mencakup indentfikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi sedangkan menurut Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya dan menurut Peter Drucker, kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.

Menurut Dan Steinhoff dan John F. Burgess (1993:35) wirausaha adalah orang yang mengorganisir, mengelola dan berani menanggung resiko untuk menciptakan usaha baru dan peluang berusaha. Secara esensi pengertian entrepreneurship adalah suatu sikap mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak seseorang terhadap tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya dan selalu berorientasi kepada pelanggan. Atau dapat juga diartikan sebagai semua tindakan dari seseorang yang mampu memberi nilai terhadap tugas dan tanggungjawabnya. Adapun kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dalam berusaha untuk memajukan karya baktinya dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan di dalam kegiatan usahanya. Selain itu kewirausahan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan seuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup. Pada hakekatnya kewirausahaan adalah sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif.

GOLONGAN WIRAUSAHA DAN PENGUSAHA

Golongan Pengusaha Besar

Pengusaha Besar adalah seseorang yang Memiliki modal yang besar untuk berbisnis sampai ke mancanegara dan biasa nya memiliki banyak karyawan.

Contoh Pengusaha Besar : Pengusaha Penjualan Konstruksi Bangunan “Krakatau Steel Cilegon”

Golongan Pengusaha Menengah

Menengah adalah Seseorang yang memiliki modal yang lumayan, biasa nya target untuk pengusaha Menengah adalah pasaran lokal yang berada di negara sendiri, pengusaha menengah pun memiliki beberapa orang karyawan tetapi tidak sampai sebanyak pengusaha Besar.

Contoh Pengusaha Menengah adalah : Pengusaha Restaurant yang Berada di Pantai Indah Kapuk.

Golongan Pengusaha Kecil

Pengusaha Kecil adalah Pengusaha yang biasanya target berada di dalam lingkup sekitar lingkungan nya saja, dan biasanya modal yang di butuhkan tidak besar ataupun harus memiliki seorang karyawan yang terdapat pada golongan besar dan menengah.

Contoh Pengusaha Kecil: Penjual Gorengan yang berada di sekitar kita, ataupun Penjual Nasi Uduk.

BERFIKIR KREATIF DALAM KEWIRAUSAHAAN

Menurut Zimmererr (1996) untuk mengembangkan keteramplan berfikir, seseorang menggunakan otak sebelah kanan. Sedangkan untuk belajar mengembangkan ketrampilan berpikir digunakan otak sebelah kiri, ciri-cirinya :
  • Selalu bertanya : Apa ada cara yang lebih baik?
  • Selalu menantang kebiasaan, tradisi dan kebiasaan rutin
  • Mencoba untuk melihat masalah dari perspektif yang berbeda
  • Menyadari kemungkinan banyak jawaban ketimbang satu jawaban yang benar
  • Melihat kegagalan dan kesalahan sebagai jalan untuk mencapai sukses
  • Mengkorelasikan ide-ide yang masih samar terhadap masalah untuk menghasilkan pemecahan inovasi
  • Memiliki ketrampilan helicopter yaitu kemampuan untuk bangkit di atas kebiasaan rutin dan melihat permasalahan dari perspektif yang lebih luas kemudian memfokuskannnya pada kebutuhan untuk berubah.

INTI DAN HAKIKAT KEWIRAUSAHAAN


Kewirausahaan (Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian. Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Richard Cantillon (1775), misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian.

Berbeda dengan para ahli lainnya, menurut Penrose (1963) kegiatan kewirausahaan mencakup indentfikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi sedangkan menurut Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya dan menurut Peter Drucker, kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan. Muncul pertanyaan mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.

Ukuran-Ukuran Sosiologi Terhadap Masalah Sosial


Didalam menentukan apakah suatu masalah-masalah problema sosial atau tidak, sosiologi menggunakan beberapa pokok persoalan sebagai ukuran, yaitu sebagai berikut :
a.      Kriteria Utama
Suatu maslah sosial, yaitu tidak adanya persesuaian antara ukuran-ukuran dan nilai-nilai sosial dengan kenyataan-kenyataan serta tindakan-tindakan sosial.  Unsur-unsur yang pertama dan pokok masalah sosial adalah adanya perbedaan yang mencolok antara nilai-nilai dengan kondisi-kondisi nyata hidupnya. Artinya, adanya kepincangan-kepincangan antara anggapan-anggapan masyarakat tentang apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang terjadi dalam kenyataan pergaulan hidup.
b.      Sumber-Sumber Sosial dan Masalah Sosial
Pernyataan tersebut diatas sering kali diartikan secara sempit, yaitu masAlah sosial merupakan persoalan-persoalan yang timbul secara langsung dari atau bersumber langsung pada kondisi-kondisi maupun proses-proses sosial. Jadi, sebab-sebab  terpenting maslah sosial haruslah bersifat sosial. Ukurannya tidaklah semata-mata pada perwujudannya yang bersifat sosial, tetapi juga sumbernya. Berdasarkan jalan pikiran yang demikian, kejadian-kejadian yang tidak bersumber pada perbuatan manusia bukanlah mer upakan maslah sosial.
c.       Pihak-Pihak  yang Menetapkan Apakah suatu Kepincangan Merupakan Masalah Sosial atau Tidak.
Dalam hal ini para sosiologi harus mempunyai hipotesis sendiri untuk kemudian diujikan pada kenyataan-kenyataan yang ada. Sikap masyarakat itu sendirilah yang menentukan apakah suatu gejala merupakan suatu maslah sosial atau tidak.
d.      Perhatian Masyarakat dan Masalah Sosial
Suatu masalah yang merupakan manifest social problem adalah kepincangan-kepincangan yang menurut keyakinan masyarakat dapat diperbaiki, dibatasi atau bahkan dihilangkan. Lain halnya dengan latent social problem yang sulit diatasi karena walaupun masyarakat tidak menyukainya, masyarkat tidak berdaya untuk mengatasinya. Di dalam mengatasi maslah tersebut, sosilogi seharusnya berpegang pada perbedaan kedua macam masalah tersebut yang didasarkan pada sistem nilai-nilai masyarakat; sosiologi seharusnya mendorong masyarakat untuk memperbaiki kepincangan-kepincangan yang diterimanya sbagai gejala abnormal yang mungkin dihilangkan atau diatasi.

Masalah Sosial, Batasan dan Pengertian

Masalah sosial menyangkut nilai-nilai  sosial dan moral. Masalah tersebut merupakan persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang inmoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Oleh sebab itu, maslah-masalah sosial tak akan mungkin ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Sosiologi menyangkut teori yang hanya dalam batas tertentu menyangkut nilai-nilai sosial dan moral, yang terpokok adalah aspek ilmiahnya.
Maslah sosial masyarakat menyangkut analisis tentang macam-macam gejala kehidupan masyarakat, sedangkan problema sosial meneliti gejala-gejala abnormal masyarakat dengan maksud untuk memperbaiki atau bahkan untuk menghilangkannya. Sosiologi menyelidiki persoalan-persoalan umum dalam masyarakat dengan maksud untuk menemukan dan menafsirkan kenyataan-kenyataan kehidupan masyrakat. Sementara itu, usaha-usaha perbaikannya merupakan bagian dari pekerjaan sosial. Dengan kata lain sosiologi berusaha untuk memahami kekuatan-kekuatan dasar yang berda di belakang tata kelakuan sosial. Pekerjaan sosial berusaha untuk menganggulangi gejala-gejala abnormal dalam masyarakat, atau untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
Masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Atau, menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial. Dalam keadaan normal terdapat integrasi serta keadaan yang sesuai pada hubungan-hubungan antar unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat. Apabila antar unsur-unsur tersebut terjadi bentrokan, maka hubungan-hubungan sosial akan terganggu sehingga mungkin terjadi kegoyahan dalam kehidupan kelompok.
Perumusan masalah sosial tidak begitu sukar, daripada usaha-usaha untuk membuat suatu indeks yang memberi petunjuk akan adanya masalah sosial tersebut. Para sosiologi telah banyak mengusahakan adanya indeks-indeks tersebut seperti misalnya indeks simple rates , yaitu angka laju gejala-gejala abnormal dalam masyarakat, angka-angka bunuh diri, perceraian, kejahatan anak-anak, dan seterusnya. Sering kali juga diusahakan sistem composite indices,  yaitu gabungan indeks-indeks dari bermacam-macam aspek yang mempunyai kaitan satu sama lainnya contohnya angka bunuh diri di hungkan dengan tingkat kemiskinan yang menjadi faktor melakukan tindakan tersebut. Namun demikian, ada beberapa ukuran umum yang dapat dipakai sebagai ukuran terjadinya suatu disorganisasi dalam masyarakat umpamanya adanya keresahan sosial. Karena terjadinya pertentangan antara golongan-golongan dalam masyarakat, frekuensi penemuan baru yang fundamental dalam kebudayaan dan masyarakat tersebut juga menyebabkan perubahan-perubahan.

Faktor Pendrorong Menjadi Waria

Faktor Intern

Faktor ini berasal dari dalam diri seseorang yang merasa dirinya mempunyai jiwa perempuan namun berada di dalam tubuh lelaki. Waria jenis ini memang kebanyakan dari waria yang ada, dimana mereka merasa tidak sesuai dan merasa ada yang mengganjal dalam diri mereka ketika mereka berperan menjadi lelaki.

Hal ilmiah yang menjelaskan fenomena adalah adanya kelaianan secara hoemonal dan kromosom, ini karena terjadi mutasi gen dimana model gen lelaki seharusnya XYY, namun kerena terjadi mutasi, gen wanita (Y) lebih mendominasi, sehingga pada lelaki tersebut mempunyai model gen XXY, maka muncullah kelainan kelainan seperti laki laki yang timbul buah dadanya, dan juga lelaki yang bernaluri seperti perempuan.

Jika mengutip isi dari kitab Fathul Bari di atas. Faktor ini seperti inilah yang islam memperbolehkannya, intinya adalah tidak adanya keterpaksaan dari awal dia menentukan dirinya menjadi waria.

seperti mami Vinolia Wakijo, waria yang menjadi ketua kebaya (Keluarga Besar Waria Yogyakarta). mengaku awal awal dirinya menjadi waria adalah karena dalam dirinya memang mempunyai jiwa wanita, namun tubuhnya lelaki.
Faktor Ekstern

Sedangkan faktor eksten dibagi menjadi 5 faktor :

b.1. Tuntutan Keluarga

Seorang yang sejak kecil sudah dibentuk menjadi karakter yang seperti lawan jenis oleh kedua orang tuanya, akan menjadikan dirinya menjadi waria, hal tersebut bisa dipicu oleh keinginan orang tuanya untuk memiliki anak dengan kelamin yang mereka inginkan.

Seperti Waria Mentul yang mengaku sejak kecil dia sudah dibentuk menjadi karakter seperti perempuan oleh kedua orang tua. Dia juga menyatakan bahwa hal tersebut dipicu oleh keinginan orang tuanya untuk memiliki anak perempuan.

b.2. Faktor Ekonomi

Sebagai masalah klasik ekonomi memegang peranan penting dalam pembeniukan karakteristik seseorang, orang akan melakukan apapun untuk memmenuhi kebutuhan ekonominya, tidak terkecuali ketika tuntutan kebutuhan yang meningkat, dan lapangan pekerjaan tidak memadai. Seseorang akan memilih jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan dengan cara yang mudah dan cepat.

Sifat waria ini biasanya hanya unutk mendapatakan uang semata (kepura-puraan), namun hal ini malah menjerat mereka menjadi keblabasan. Cara unutk memenuhi kebutuhannya pun beragam, ada yang menjadi pengamen, penari, pelaku hiburan, hingga pekerja seks komersial(PSK).

Seperti Hendra Gunawan alias indah. Waria taman lawang berusia 26 ini sudah menjadi waria sejak 3 tahun yang lalu, Indah mengaku alasanya merubah jati dirinya adalah karena keterbatasan ekonomi.

b.3. Traumatis

Faktor ini terjadi di masa lalu sesorang yang tidak bisa dilupakanya, sehingga ia merasa nyaman saat menjadi waria, sebagai cara yang bisa membuatnya lupa (pelampiasan), penyebab trauma ini biasanya berupa perlakuan tidak senonoh seperti tindak asusila, disakit, dihianati oleh lawan jenisnya.

Seseorang dengan trauma karena tindak asusila merasa dirinya sudah ternoda, atau dalam istilah lain sesorang merasa merasa sudah kepalang tanggung maka dari itu mereka mencari pelampiasan dengan merubah penampilan, dan saat merubah penampilan itulah dia merasa nyaman.

Seperti chacha, sejatinya dia sudah tunangan dan ada rencana menikah, namun, pacarnya main serong dan hamil oleh orangg lain. Chacha pun frustasi dan trauma menjalin cinta dengan perempuan sehingga dia kenal dengan dunia waria.

b.4. Faktor Lingkungan

Masyarakat di sekitar Tempat tinggal seseorang mempunyai peran yang cukup signifikan dalam pembentukan karakter sesorang.

Seorang laki laki yang dari kecil tinggal dikawasan lokalisasi atau, salon waria, atau berteman dengan perempuan dan bermain mainan perempuan menjadikan dirinya cenderung menumbuhkan sikap feminim, inilah benih benih waria dalam diri lelaki.

Selain itu terlalu ketatnya aturan atau norma yang berlaku menyebabkan sesorang mempunyai orientasi sex yang menyimpang.

Seperti Anwar yang merubah namanya menjadi bela karena statusnya menjadi waria, ia menjadi waria karena lingkungan tempat tinggalnya yang banyak tinggal waria. Dan orang tuanya sebagai penata rias di salon membolehakn bela berinteraksi tanpa batas dengan waria.

b.5. Faktor Budaya

Praktek waria sejatinya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu berawal dari cerita paling terknal di zaman nabi Luth, kemudian seorang raja Romawi Julius Caesar, (Alezander the great) Raja Macedonia yang juga mempunyai kepribadian ganda , seorang waria.

Sedangkan di indonesia sendiri praktek waria ada bahkan di daerah yang terkesan agamis. Daerah pertama yangg mempunyai budaya waria adalah Aceh. Ada sebuah tarian di Aceh yang di sebut tarian roteb sadati, seorang anak laki laki dandani mirip dengan perempuan.

Lebih parah di daerah Ponorogo. Ada sebuah budaya berbau mistis yang menjadikan seorang lelaki muda sebagai budak sex seseorang untuk mencapai kesaktiannya. Budaya ini terkenal dengan istilah warok.


Tahapan Menjadi Waria

Psikolog Amerika Robert Epstein (2006) melakukan peneliian dengan 18.000 relawan di 12 negara sebagai pengisi kuesioner , hasilnya adalah kurang dari 10 % orang orang murni sebagai heteroseksual ataupun homoseksual. Sedangkan sisanya yaitu 90% adalah biseksual atau penyuka semuanya[5]. Inilah bisa menjadi modal utama orang orang mempunyai penyimpangan suksual. Perlu diketahui bahhwa orientasi seksual manusia dibagi menjadi 3 yaitu heteroseksual, homoseksual, dan biseksual.

Dari hasil pengamatan penyusun, sebelum menjadi waria seseorang akan menyadari ada yang salah dengan dirinya. Dia tidak merasa nyaman dengan dirinya sendiri sebagai laki laki jika perempuan dan perempuan jika laki laki.

Kemudian ketika dia bersama dengan teman lawan jenisnya dengan segala pernak pernik lawan jenisnya, dia merasa nyaman. Berawal dari coba coba yang kemudian mulai mengubah penampilanya menjadi seperti lawan jenisnya. Selain itu, orientasi cinta dan sexnya mulai berubah. Pada tahapan ini seorang menjadi homosexual, baik itu gay ataupun lesbian.

Namun dalam Islam, fenomena waria dibagi menjadi 2, yaitu: Jenis pertama adalah yang golongan yang diciptakan dalam keaadaan seperti itu, dan dia tidak memberat-beratkan dirinya untuk berakhlaq dengan akhlaq wanita, berhias, bicara dan bergerak seperti gerakan wanita. Bahkan hal tersebut merupakan kodrat yang Allah ciptakan atasnya, maka yang seperti ini tidak ada ejekan, celaan, dosa dan hukuman baginya karena sesungguhnya dia diberi udzur karena dia tidak membuat-buat hal tersebut.

Ketika dilahirkan, waria ini kebanyakan memiliki kelamin ganda, sehingga penentuannya dapat dilihat saat pertama kali dia mengeluarkan air kencing, namun jika air kencing ini tidak keluar atau keluar pada 2 alat kelaminnya, maka kebiasaanlah yang menentukan.

Jenis kedua dari Al-Mukhonats yaitu yang kodratnya tidak seperti itu, bahkan dia berusaha berakhlak, bergerak, bertabiat dan berbicara seperti wanita dan juga berhias dengan cara wanita berhias.dalam islam ini dilarang dan merupakan hal yang menyalahi kodrat ilahi.

Memang tahapan waria selalu mengalami kendala dan penolakan baik dari jenis yang pertama maupun yang kedua. Penolakan masyarakat pada waria selama ini bukan saja karena penampilan fisiknya yang “aneh” tapi terlebih lagi karena perilaku seksualnya yang dianggap menyimpang. Mereka dianggap sebagai pendosa atau orang yang dikutuk Tuhan karena tertarik dengan sesama jenis (homoseks).

Namun dorongan dari diri sendiri yang kuatlah yang menjadikan waria bisa bertahan, meski tak jarang waria kembali menjadi laki laki tulen dan memadu kasih dengan lawan jenisnya.