Analisis Usaha Peternakan

Usaha ternak merupakan suatu proses mengkombinasikan faktor-faktor produksi berupa lahan, ternak, tenaga kerja, dan modal untuk menghasilkan produk peternakan. Keberhasilan usaha ternak sapi bergantung pada tiga unsur, yaitu bibit, pakan, dan manajemen atau pengolaan. Manajemen mencakup pengelolaan perkawinan, pemberian pakan, perkandangan dan kesehatan ternak. Manajemen juga mencakup penanganan hasil ternak, pemasaran dan pengaturan tenaga kerja (Abidin, 2002).

Metode Suatu usaha pada dasarnya selalu diarahkan untuk mendapatkan keuntungan atau laba. Keuntungan merupakan selisih antara penerimaan dan biaya produksi. Biaya produksi adalah nilai dari semua korbanan ekonomi yang dapat diperkirakan dan dapat diukur untuk menghasilkan suatu produk (Rodjak, 2006).

R/C ratio adalah alat analisis untuk melihat keuntungan relatif suatu usaha terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Suatu usaha dikatakan layak jika nilai R/C lebih besar dari 1. Semakin tinggi nilai R/C, maka tingkat keuntungan suatu usaha semakin tinggi (Mahyuddin, 2009). Analisis usaha mutlak dilakukan bila seseorang hendak memulai usaha. Analisis usaha dilakukan untuk mengukur atau menghitung apakah usaha tersebut menguntungkan atau merugikan. Analisis usaha memberi gambaran kepada peternak untuk melakukan perencanaan usaha. Dalam analisis usaha diperlukan beberapa asumsi dasar. Asumsi dasar dapat berubah sesuai dengan perkembangan waktu (Supriadi, 2009).

Menurut Suharno dan Nazaruddin (1994) gambaran mengenai usaha ternak yang memiliki prospek cerah dapat dilihat dari analisis usahanya. Analisis dapat juga memberikan informasi lengkap tentang modal yang diperlukan, penggunaan modal, besar biaya untuk bibit (bakalan), ransum dan kandang, lamanya modal kembali dan tingkat keuntungan yang diperoleh.



sumber

Usaha Ternak Babi

Menurut Bunter dan Bennett (2004) babi merupakan salah satu komoditas ternak penghasil daging. Babi memiliki sifat-sifat dan kemampuan yang menguntungkan antara laina dalah memiliki laju pertumbuhan yang cukup cepat dan juga memiliki jumlah anak per kelahiran (litter size) yang tinggi. Sehingga, jika dilihat dari kelebihan-kelebihannya tersebut maka babi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai penghasil daging.

Ternak babi merupakan ternak pemakan butir-butiran dan hijauan, termasuk hewan profolik karena cepat sekali berkembang. Ternak ini secara komersil banyak diusahakan di Sumatera Utara, Jawa Tengah dan beberapa provinsi lainnya. Sangat disayangkan data statistik babi tidak membedakan jenis babi lokal dan babi hybrid. Babi merupakan ternak yang mempunyai daya pertumbuhan dan perkembangan yang relatif pesat, selain itu babi merupakan sumber daging yang sangat efisien sehingga arti ekonominya sebagai ternak potong sangat tinggi. Potensi ternak babi di Sumatera Utara pada tahun 2001 sebanyak 847.375 ekor, dilihat sementara populasi yang terdapat di propinsi tersebut maka masih terbuka peluang investasi untuk budidaya ternak babi di propinsi itu sebanyak 40.000 ekor. Oleh karena itu banyak penduduk Sumatera Utara yang beternak babi baik secara intensif maupun semi intensif sebagai usaha dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari (Yusdja dan Ilham, 2006).

Babi merupakan ternak omnivora monogastrik yaitu ternak pemakan semua pakan dan mempunyai satu perut besar yang sederhana (Sihombing, 2006). Ternak babi merupakan salah satu dari sekian jenis ternak yang mempunyai potensi sebagai suatu sumber protein hewani dengan sifat-sifat yang dimiliki yaitu prolifik (memiliki banyak anak setiap kelahiran), efisien dalam mengkonversi bahan makanan menjadi daging dan mempunyai daging dengan persentase karkas yang tinggi (Siagian, 1999). Bangsa ternak babi yang sudah dikenal dan banyak dikembangkan, yaitu Yorkshire, Landrace, Duroc, Hampshire, dan Berkshire. Bangsa ternak babi adalah sumber genetik yang tersedia bagi peternak. Hampir semua ternak babi yang dikembangkan sekarang ini merupakan bangsa babi hasil persilangan (Siagian, 1999). Usaha peternakan babi akan dapat mendatangkan keuntungan ekonomi apabila dikembangkan dengan serius. Menurut Sihombing (2006), dua syarat yang harus dipenuhi dalam memulai usaha ternak babi, adalah pengadaan makanan yang cukup dan tempat pemasaran yang dekat. Varietas babi yang diketahui sebanyak 312 tetapi hanya 87 yang resmi diakui sebagai bangsa babi (recognized breeds) dan yang 255 lagi belum dianggap sebagai yang resmi. Tiap varietas maupun bangsa babi ini memiliki ciri-ciri khas dan beberapa diantaranya masih menempati geografis tertentu (Sihombing, 1997).

Pemeliharaan ternak babi memerlukan biaya yang cukup besar terutama dalam hal pemberian makanan. Biaya ongkos makan menduduki tempat tertinggi dari ongkos produksi total yang kadang-kadang mencapai 80%. Hal ini disebabkan oleh babi tumbuh begitu cepat sehingga keperluan akan makanan sangat tinggi. Misalnya saja untuk kategori anak baru lahir sampai dipasarkan, pada waktu babi lahir beratnya 1,4 kg (berat lahir 1,0-1,5 kg) dan mencapai 163 kg setelah 18 bulan (Williamson dan Payne, 1993).

Ternak babi merupakan salah satu sumber daging dan untuk pemenuhan yang sangat efisien diantara ternak-ternak yang lain, sehingga arti ekonomi sebagai ternak potong cukup tinggi: Babi memiliki konversi pakan yang cukup tinggi. Ternak babi sangat peridi (profilik), satu kali beranak dapat melahirkan 6-12 ekor, dan satu ekor babi dapat beranak dua kali dalam setahun. Presentase karkas cukup tinggi, dapat mencapai 65-80%, sedangkan domba dan kambing 45-50% dan kerbau 38%. Kandungan lemak babi cukup tinggi, dengan demikian kadar energinya juga lebih tinggi. Ternak babi sangat efisien dalam megubah sisa pakan serta hasil ikutan pertanian, pabrik dan lainnya. Ternak babi mudah beradaptasi terhadapsistem pemakaian alat-alat perlengkapan kandang (Sihombing, 2006).
Blakely dan Bade (1998) menyatakan bahwa bobot potong yang paling disukai oleh para pengusaha saat ini telah berubah dari bobot potong optimal sebelumnya sebesar 90-100 kg menjadi 100-115 kg. Alasan utama perubahan ini adalah karena menyangkut efisiensi dan kecenderungan produk-produk olahan daging yang menggunakan karkas yang lebih berat.

Pada umumnya tenaga kerja pada industri kecil mempunyai kelemahan pada pengetahuan dan ketrampilan yang rendah, sehingga mengalami kesulitan dalam menciptakan motif dan hiasan baru dalam menghasilkan produk, dan hanya mengandalkan pengalaman kerja sehingga dapat menghambat perkembangan industri kecil (Depdikbud, 1992). Peningkatan besar usaha atau jumlah ternak yang dipelihara, umumnya para peternak diperhadapkan dengan berbagai kendala. Hal ini terutama terbatasnya modal untuk biaya produksi disamping pemasaran produk ternak serta penguasaan keterampilan beternak yang profesional (Rahardi et al., 1999).

Modal merupakan bentuk kekayaan baik berupa uang ataupun barang yang digunakan untuk menghasilkan sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses produksi. Penerimaan adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Keuntungan, adalah selisih penerimaan dan semua biaya (Soekartawi, 2006).

Laju perkembangan dan sukses atau gagalnya usaha peternakan babi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang bersifat dinamis. Hasil pengamatan ditentukan aspek penentu, yaitu tipe dan pola usaha yang meliputi, skala usaha, kondisi dan kemampuan sumber daya produksi, tipe, ukuran, dan kondisi perkembangan serta fasilitasnya, keadaan pasar dan transportasi, besar modal, kecepatan perputaran modal, dan tingkat pembeliannya, stabilisasi permintaan, selera dan preferensi masyarakat akan tipe produk yang dihasilkan dan kondisi ekonomi, macam dan jumlah makanan yang tersedia, efisiensi ternak dalam mengubah makanan menjadi produk daging (Aritonang, 1997).



sumber

Pengelolaan Usaha Peternakan

Pengelolaan usaha tani pada hakikatnya akan dipengaruhi oleh perilaku petani yang mengusahakan. Perilaku tersebut tergantung dari banyak faktor diantaranya: watak, suku dan kebangsaan dari petani itu sendiri, tingkat kebudayaan bangsa dan masyarakatnya, dan juga dari kebijaksanaan pemerintah (Tohir, 1991).

Ternak sebagai komoditas, sekelompok ternak yang dihasilkan dari turunan ternak sumberdaya melalui suatu perkawinan tertentu atau kelompok ternak yang telah terpilih melalui satu jalur perkawinan tertentu atau seleksi genetis tertentu berdasarkan ciri-ciri karakteristk yang diunggulkan. Ternak komoditas berfungsi menghasilkan bakalan unggul. Contoh kelompok ini adalah ayam ras GPS (Grand Parent Stock). Ternak sebagai penghasil produk adalah kelompok ternak yang berfungsi menghasilkan daging, susu, telur secara efisien. Contoh kelompok ini adalah sapi bakalan impor, ayam ras pedaging, ayam petelur dan lain-lain (Yusdja dan Ilham, 2006).

Usaha tani adalah kegiatan usaha manusia untuk mengusahakan tanahnya dengan maksud untuk memperoleh hasil tanaman atau hewan tanpa mengakibatkan berkurangnya kemampuan tanah yang bersangkutan untuk memperoleh hasil selanjutnya (Adiwilaga, 1982). Usahatani adalah kegiatan mengorganisasikan atau mengelola aset dan cara dalam pertanian. Usahatani juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mengorganisasi sarana produksi pertanian dan teknologi dalam suatu usaha yang menyangkut bidang pertanian (Moehar, 2001).

Tujuan utama dari usaha ternak adalah mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, baik berupa uang maupun berwujud hasil. Usaha ternak bisa digolongkan menjadi dua: Hasil Pokok, yaitu dapat berupa makanan seperti : daging, susu, dan telur. Berupa tenaga kerja seperti tenaga kerbau dalam membajak. Hasil Ikutan (by product), pada umumnya, dari usaha ternak, kecuali memberikan hasil utama, juga memberikan hasil sampingnya yang bisa dimanfaatkan antara lain: Pupuk, dari hewan ternak menyusui dan unggas dapat diperoleh kotorannya yang sangat besar manfaatnya bagi usaha pertanian. Kulit untuk sepatu, tas, alat musik dan wayang. Tangkai tanduk digunakan untuk tangkai kipas, tangkai wayang, sisir, kancing baju dan masih banyak lagi. Tulang, dapat digunakan sebagai tepung tulang yang digunakan sebagai pakan ayam dan babi (Sihombing, 2006).

Faktor-faktor produksi dalam usahatani terdiri atas empat unsur pokok, yaitu tanah, tenaga kerja, modal, dan pengelolaan. Keempat faktor produksi tersebut dalam usahatani mempunyai kedudukan yang sama pentingnya (Hernanto, 1988).

Menurut Saragih (2000), berdasarkan corak usaha tani, kegiatan usaha ternak di Indonesia, telah berkembang 4 tipologi usaha, yaitu : Usaha tani ternak sebagai usaha sambilan, yaitu petani ternak mengusahakan berbagai macam komoditi terutama tanaman pangan, dimana ternak sebagai usaha sambilan untuk mencukupi kebutuhan sendiri dengan tingkat pendapatan dari usaha tani ternak kurang dari 30%. Usaha tani ternak sebagai cabang usaha, yaitu petani ternak mengusahakan pertanian campuran (mixed farming) dengan ternak sebagai cabang usaha tani dengan tingkat pendapatan dan budidaya ternak 30-70% (semi komersial). Usaha tani ternak sebagai usaha pokok, yaitu petani ternak mengusahakan ternak sebagai usaha sambilan (single commodity) dengan tingkat pendapatan dari ternak sekitar 70-100%. Usaha tani ternak sebagai usaha industri, yaitu peternak mengusahakan ternak sebagai industri komoditas ternak secara khusus (specialized farming) dengan tingkat pendapatan 100% dari usaha ternak pilihan.

Aritonang (1993) berpendapat bahwa corak usahatani yang sub-sistem umumnya menerapkan pola pe-nanganan ternak yang bersifat tradisional (penerapan teknologi yang rendah) dengan skala usaha yang kecil. Semakin besar skala usaha, tujuan ekonomi semakin menonjol sehing-ga prinsip ekonomi intensif diperhatikan.


sumber