10 Sifat Mulia Anjing

Hasan al-Basri ra mengatakan bahawa pada Anjing ada sepuluh sifat mulia yang perlu diteladani oleh setiap orang Mukmin:

1. Anjing sentiasa lapar, dia jarang makan sampai kenyang. Sifat ini adalah sifatnya Orang Soleh.
2. Anjing tidak mempunyai tempat yang tetap. Dia selalu berpindah randah mengikut keperluannya. Sifat ini adalah sifat orang yang Bertawakal Kepada Allah swt.
3. Anjing tidak tidor diwaktu malam, melainkan sedikit sahaja. Dia selalu berjaga-jaga. Sifat ini sama seperti sifat orang-orang yang Cinta Kepada Allah, sentiasa renggang punggungnya dari tempat tidur kerana Bermunajat Kepada Allah swt.
4. Jika anjing mati, dia tidak ada barang yang di wariskan dan tidak ada pulayang mewaris. Sifat ini adalah sifat Hamba-Hamba Allah Yang Zuhud.
5. Anjing tidak suka meninggalkan tuannya, tidak merajuk atau melarikan diri daripadanya sekalipun dipukul atau dimarah. Sifat ini adalah tanda tanda yang dimiliki oleh para murid yang Siddiqin yang sedang belajar kepada tuan gurunya. Tidak marah dan tidak merajuk walaupun dia diuji dengan berbagai ujian.
6. Anjing lebih redha dan lebih suka bertempat ditanah, tidur ditanah atau tempat tempat yang lebih rendah daripada tempat manusia. Inilah tanda tanda orang orang yang Tawaduk, orang orang yang suka Merendahkan Diri, tidak Menyombong.
7. Jika tempatnya diambil oleh orang atau ditempati benda lain, dia akan pindah ke tempat lain tanpa Merasa Marah atau Berdendam. Inilah tanda tanda hamba Allah yang Redha akan Bahagiannya.
8. Jika dipukul, dihalau atau dibaling dengan benda benda yang menyakitkan, dia menerimanya. Tidak ada perasaan dendam terhadap perkara yang lepas. Inilah tanda hamba Allah Yang Khusyuk.
9. Jika anjing melihat orang makan, dia melihat sahaja dari jauh, tidak meminta minta atau mengganggu. Jika diberi, dimakan dan jika tidak diberi, dia diam sahaja. Inilah sifat Orang Miskin yang Redha akan Pemberian Allah swt.
10. Jika dia berjalan atau pergi ke tempat asalnya, dia tidak menoleh ke belakang. Inilah tanda tanda Orang yang akan Berjaya.

Delapan Syarat Agar Dapat Berkumpul reunian Bersama Keluarga dan teman di Surga


_Reuni merupakan momen indah yang banyak ditunggu. Setelah sekian lama tidak berjumpa, dipisahkan oleh jarak dan rutinitas baru, kita berkeinginan  untuk bertemu kembali dengan kawan lama dalam suasana gembira dan penuh nostalgia._

Kegiatan ini diselenggarakan bukan saja oleh mereka yang memiliki kesamaan sekolah, tapi seringkali dilakukan pula oleh paguyuban yang memiliki kesamaan keturunan, asal-usul daerah, atau kesamaan bentuk lainnya.

Meluasnya penggunaan teknologi informasi khususnya jejaring sosial yang mampu melacak keberadaan kawan lama telah ikut mendorong meningkatnya aktifitas reunian di berbagai kalangan. Suasana romantisme masa lalu telah membuat reuni menjadi peristiwa yang diharapkan. Bahkan diperjuangkan.

_Bagi muslimin ada satu reuni yang memiliki nilai luar biasa, yaitu kesempatan bertemunya kembali keluarga besar seketurunan di tempat baru yang sangat menyenangkan di akhirat kelak._

Allah berfirman dalam QS Ar-Ra'd [13]: 22-24 yang artinya "Orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), yaitu Surga 'Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama orang yang saleh dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan anak-cucu mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), 'salaamun alaikum bimaa shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). 'Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu"

*_Sayyid Quthb dalam "Tafsir Fi Zhilalil-Qur'an" menjelaskan peristiwa di atas  laksana  sebuah festival atau reuni dimana mereka saling bertemu, mengucapkan salam, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan dan menggembirakan serta penuh dengan penghormatan._*

Kebersamaan di surga tersebut tentu tidak mudah untuk dicapai, karena dalam kisah yang dijelaskan Alquran banyak keturunan/keluarga yang tidak lagi bisa bertemu di akhirat, seperti: Nabi Nuh dengan putra dan istrinya, Asiyah yang solehah dengan suaminya (Firaun), dan Nabi Luth dengan istrinya. Namun bertemunya  keluarga besar di surga bukan pula sesuatu yang tidak mungkin.    

*Allah menjelaskan dalam QS. Ar-Ra'd [13] : 18-21 kita bersama keluarga besar bisa bertemu di surga 'Adn, asal dapat memenuhi delapan syarat.*

*Pertama,* memenuhi seruan Tuhannya Barang siapa yang patuh kepada Allah niscaya ia akan mendapatkan pembalasan yang sebaik-baiknya.

*Kedua,* memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian. Janji Allah disini mutlak, meliputi semua macam perjanjian. Janji terbesar yang menjadi pokok pangkal semua perjanjian ialah janji iman. Perjanjian untuk setia menunaikan segala konsekuensi iman.

*Ketiga,* menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan. Dalam hal ini taat secara paripurna, istiqomah yang berkesinabungan, dan berjalan di atas sunnah sesuai dengan  aturan-Nya dengan tidak menyimpang dan tidak berpaling.

*Kempat,* takut kepada Allah.  Takut kepada Allah dan takut kepada siksaan yang buruk dan menyedihkan pada hari pertemuan yang menakutkan.

*Kelima,* sabar.  Sabar atas semua beban perjanjian di atas (seperti beramal, berjihad, berdakwah, berijtihad), sabar dalam menghadapi kenikmatan dan kesusahan, dan sabar dalam menghadapi kebodohan dan kejahilan manusia yang sering menyesakkan hati.

*Keenam,*  mendirikan Shalat.   Ini termasuk juga  memenuhi janji dengan Allah. Shalat  ditonjolkan karena merupakan rukun pertama perjanjia ini, sekaligus menjadi lambang penghadapan  diri secara  tulus dan sempurna kepada Allah. Juga penghubungan yang jelas antara hamba dengan Tuhan, yang tulus dan suci.

*Ketujuh,*  Menginfakkan sebagian rezeki secara sembunyi atau terang-terangan.

*Kedelapan,* menolak kejahatan dengan kebaikan dalam pergaulan sehari-hari. Dalam hal ini diperintahkan membalas kejelekan dengan kebaikan apabila tindakan ini memang dapat menolak  kejahatan itu, bukan malah menjadikan yang bersangkutan semakin senang berbuat kejahatan